Emas Dibayangi Suku Bunga AS, Investor Pantau Data Ekonomi Terbaru

Ilustrasi emas batangan dan emas perhiasan. (Foto: Shutterstock)
Penulis: Ibtihal
Senin, 29 Juni 2026 | 14:22:38 WIB

JAKARTA - Nilai jual emas diperkirakan masih akan bergerak dengan penuh kewaspadaan pada aktivitas perdagangan pekan ini setelah mencatatkan kemerosotan mingguan sepanjang empat minggu berturut-turut.

Walaupun sempat merangkak naik pada transaksi Jumat (26/6/2026) pekan lalu seiring dengan melemahnya indeks dolar AS serta berkurangnya ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga di Amerika Serikat (AS), atmosfer pasar terhadap komoditas logam mulia terpantau masih cenderung negatif.

Melihat data aktivitas perniagaan, harga emas di pasar spot melonjak 1,53 persen ke level USD4.088,38 per troy ons pada penutupan akhir pekan lalu. 

Penguatan harga tersebut terjadi setelah mata uang dolar AS merosot dari posisi tertingginya seiring publikasi data inflasi AS yang menjadi salah satu tolok ukur utama dalam penentuan kebijakan moneter bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed).

Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (Personal Consumption Expenditures/PCE) AS mencatatkan pertumbuhan 4,1 persen secara tahunan sampai periode Mei 2026, sesuai dengan perkiraan para ekonom melalui jajak pendapat Reuters. 

Indikator tersebut menyebabkan proyeksi pasar terhadap kelanjutan kenaikan suku bunga AS menjadi sedikit berkurang.

Merujuk pada perangkat FedWatch milik CME Group, peluang kenaikan suku bunga AS pada agenda September mendatang saat ini diperkirakan berada di kisaran 59 persen, mengalami penurunan jika dibandingkan ekspektasi sebelumnya yang menyentuh 64 persen. 

Meski demikian, hasil survei mingguan Kitco News menunjukkan bahwa mayoritas pelaku pasar konsisten melihat adanya celah pelemahan harga emas untuk kurun waktu pekan ini.

Dari total 18 analis Wall Street yang ikut serta dalam jajak pendapat, sebanyak delapan pengamat atau sekitar 44 persen memprediksikan nilai emas melandai, sedangkan lima analis atau 28 persen memproyeksikan harga akan mendaki. 

Sementara itu, lima pengamat lainnya menebak emas bergerak mendatar.

Pada lini pemodal ritel, sudut pandang yang serupa tampak dalam jajak pendapat Kitco yang menghimpun pandangan dari 238 responden. 

Sebanyak 109 investor atau setara 46 persen memperkirakan harga emas bakal melemah sepanjang pekan ini, di sisi lain terdapat 89 investor atau 37 persen memproyeksikan harga merangkak naik. Sisanya, berkisar 17 persen memprediksi emas bergulir dalam fase konsolidasi.

Presiden Adrian Day Asset Management Adrian Day memberikan penilaian bahwa arah pergerakan logam mulia emas masih tersandera oleh rentetan faktor yang saling bertolak belakang.

“Tidak berubah, meskipun kata yang lebih tepat adalah ‘tidak pasti’. Ada kekuatan yang saling bersaing: konflik Iran dapat kembali meningkat, sementara aksi jual saham teknologi dan AI dapat memicu kebutuhan likuiditas yang lebih besar, terutama karena utang margin di pasar saham AS telah mencapai rekor tertinggi,” ujarnya kepada Kitco.

Di sisi lain, Kepala Aset Logam pada Britannia Global Markets Neil Welsh mengutarakan bahwa psikologis investor masih bersikap waspada, namun situasi di bursa emas lebih merefleksikan fase konsolidasi ketimbang pergerakan aksi jual secara masif.

“Sentimen tetap hati-hati, tetapi latar belakang yang lebih luas masih terlihat seperti konsolidasi daripada kapitulasi,” kata Welsh.

Analis senior pasar di Barchart.com Darin Newsom bertindak selaku salah satu pengamat yang memproyeksikan harga emas memegang potensi untuk merangkak naik pada pekan ini. Atensi para pemodal ke depannya bakal tertuju penuh pada rilis rangkaian data ekonomi AS, khususnya di lini sektor ketenagakerjaan.

Pasar dipastikan akan mencermati data lowongan pekerjaan JOLTS, publikasi laporan ketenagakerjaan ADP, indeks manufaktur ISM, serta angka klaim pengangguran sebelum momen peluncuran data Nonfarm Payrolls (NFP) pada hari Kamis mendatang.

Bukan cuma data ekonomi, pelaku pasar juga bakal menaruh perhatian pada pemaparan dari sejumlah petinggi bank sentral, termasuk Ketua The Fed Kevin Warsh yang dihubungkan bakal menyampaikan pidato dalam forum Bank Sentral Eropa (ECB). 

Kondisi ketenagakerjaan serta haluan kebijakan moneter AS dipastikan menjelma sebagai aspek krusial yang menentukan laju pergerakan harga emas dalam jangka pendek.

Reporter: Ibtihal