Kelola Sisa Produksi, MIND ID Kurangi Limbah B3 Operasional Tambang

ILUSTRASI, MIND ID (Sumber Gambar : Net)Acara Liburan & Musiman
Rabu, 17 Juni 2026 | 14:20:49 WIB

JAKARTA – Holding Industri Pertambangan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Mining Industry Indonesia (MIND ID), mengoptimalkan kembali material sisa dari proses produksi sebagai bentuk implementasi praktik pertambangan yang berkelanjutan. Perusahaan menjalankan berbagai langkah strategis, yang salah satunya difokuskan untuk mengurangi volume limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) serta non-B3.

Binahidra Logiardi selaku Division Head of Sustainability MIND ID memaparkan bahwa berbagai komoditas serta produk mineral layaknya aluminium, bauksit, nikel, tembaga, hingga timah saat ini kian dibutuhkan demi menopang program elektrifikasi, pembuatan baterai, kendaraan listrik, dan ekspansi jaringan energi.

Oleh karena itu, Binahidra menegaskan bahwa akselerasi pengelolaan mineral strategis tersebut wajib diselaraskan dengan sistem pengelolaan sisa hasil produksi yang bertanggung jawab.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber "Karena itu, MIND ID menerapkan kerangka strategi keberlanjutan grup atau Sustainability Pathway. Salah satu fokusnya adalah minimisasi limbah melalui efisiensi operasional dan pemanfaatan kembali material hasil kegiatan pertambangan," kata Binahidra melalui keterangan tertulis yang disiarkan pada Senin (15/6/2026).

Berdasarkan data MIND ID, volume limbah padat B3 yang diproduksi mengalami penurunan berkisar 38% dalam periode dua tahun terakhir. 

MIND ID berhasil memangkas jumlah limbah padat B3 dari yang semula sebesar 351 kiloton pada tahun 2023 menjadi 279 kiloton pada tahun 2024, lalu konsisten merosot ke angka 217 kiloton pada tahun 2025. 

Dalam rentang waktu yang sama, volume limbah padat non-B3 juga terpantau turun dari 1.082 kiloton menjadi 956 kiloton.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber "Limbah B3 maupun limbah non-B3 terus menurun karena operasi dilakukan secara lebih efisien sehingga limbah yang dihasilkan semakin berkurang," ungkap Binahidra.

Binahidra menjabarkan bahwa pembuangan dan pemrosesan limbah Grup MIND ID ditangani baik secara mandiri maupun berkolaborasi dengan pihak ketiga yang telah mengantongi izin resmi. Output dari manajemen limbah operasional tambang tersebut didayagunakan kembali demi menunjang aktivitas operasional serta penyediaan infrastruktur bagi warga lokal di sekitar wilayah kerja perusahaan.

Salah satu program berkelanjutan yang sudah berjalan direalisasikan oleh PT Aneka Tambang Tbk (Antam) lewat Unit Bisnis Pertambangan Nikel Kolaka. Antam mengolah kembali slag feronikel menjadi material bangunan berupa batako dan paving block.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber "Material slag diangkut dari area penampungan, dicampur dengan semen dan air, kemudian dicetak dan dikeringkan untuk menghasilkan produk konstruksi yang memiliki nilai tambah dengan total produksi tahunan mencapai 5.000 ton per tahun," terang Binahidra.

Di sisi lain, PT Freeport Indonesia mengoptimalkan tailing untuk dijadikan material agregat campuran paste backfill pada aktivitas penambangan bawah tanah, dengan kapasitas pemanfaatan berkisar 1.500 kiloton per tahun.

Sementara itu, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mendayagunakan slag nikel sebagai bahan baku pengerjaan jalan, sarana prasarana tambang, hingga stabilisasi area lahan dengan volume pemanfaatan menyentuh angka 5.300 kiloton per tahun.

Binahidra berpendapat bahwa beragam inisiatif tersebut membuktikan kalau pengelolaan limbah saat ini tidak lagi sekadar dipandang sebagai pemenuhan regulasi semata, melainkan sudah melekat menjadi bagian dari strategi mitigasi risiko serta penciptaan nilai bagi korporasi.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber "Sustainability Pathway bukan sekadar alat pelaporan, tetapi instrumen untuk mengelola dampak, memitigasi risiko, dan menciptakan nilai tambah jangka panjang yang bermanfaat," tandasnya.

Reporter: Gemilang Ramadhan