Telkom Alokasikan Rp 4 Triliun untuk Lancarkan Aksi Buyback Saham

ILUSTRASI, telkom (Sumber Gambar : kontan.co.id)
Senin, 08 Juni 2026 | 14:31:30 WIB

JAKARTA – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) berniat mengalokasikan dana senilai Rp 4 triliun demi mendanai aksi pembelian kembali saham atau buyback. Rencana buyback ini ditargetkan berjalan selama setahun penuh, terhitung sejak 9 Juni 2026 sampai dengan 8 Juni 2027.

Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 4 Juni 2026, Telkom bakal mengajukan permohonan izin kepada para pemegang saham lewat Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang diselenggarakan pada Senin (8/6/2026).

Jika agenda tersebut direstui, maka Telkom bisa langsung menggulirkan proses buyback pada 9 Juni 2026. Pihak manajemen Telkom menegaskan bahwa seluruh kebutuhan dana untuk aksi korporasi ini bakal diambil dari kas internal perusahaan.

Sebasgai mana dilansir dari berita sumber, “Perkiraan biaya pembelian kembali saham perseroan adalah sebanyak-banyaknya sebesar Rp 4 triliun yang berasal dari kas internal perseroan, sudah termasuk biaya transaksi pembelian kembali saham komisi, pedagang perantara, serta biaya lainnya berkaitan dengan pembelian kembali saham,” tulis manajemen TLKM.

Telkom juga memberikan kepastian bahwa porsi saham publik atau free float setelah agenda buyback selesai tidak akan berada di bawah angka 15 persen dari keseluruhan saham yang tercatat. Pembatasan ini diterapkan demi mematuhi regulasi pasar modal yang berlaku saat ini.

Menurut penjelasan pihak Telkom, langkah buyback diambil demi meningkatkan rasa percaya para investor atas nilai jangka panjang sekaligus prospek bisnis emiten ke depan. Aksi ini pun ditujukan untuk menyelaraskan situasi pasar dengan kondisi fundamental yang dimiliki perusahaan.

Manajemen Telkom berkeyakinan bahwa buyback tidak bakal membawa konsekuensi negatif yang sifatnya material bagi operasional bisnis.

Pihak manajemen menyebutkan bahwa ketersediaan modal kerja beserta arus kas perusahaan saat ini masih sangat mencukupi untuk mendanai buyback, menyokong operasional harian, serta membiayai ekspansi usaha.

Oleh sebab itu, agenda ini diprediksi tidak akan mengganggu pendapatan bersih perseroan.

Kendati demikian, pemanfaatan dana kas internal untuk kepentingan buyback dipastikan bakal mengurangi nilai aset serta ekuitas bersih milik Telkom.

Manajemen memperkirakan penurunan pos aset dan ekuitas tersebut maksimal menyentuh Rp 4 triliun, setara dengan jumlah dana yang dipersiapkan untuk program ini.

Setelah buyback direalisasikan, total aset TLKM diperkirakan mengalami penurunan dari angka Rp 287,759 triliun menjadi Rp 282,280 triliun. Begitu pula dengan pos total ekuitas perusahaan yang diproyeksikan merosot dari Rp 150,537 triliun menjadi Rp 145,058 triliun.

Walaupun jumlah aset dan ekuitas menyusut, pos laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk diproyeksikan tidak berubah, yakni tetap berada di angka Rp 17,814 triliun.

Di sisi lain, nilai laba per saham atau earnings per share (EPS) emiten justru berpeluang merangkak naik.

Melalui simulasi yang dikerjakan perseroan, nilai EPS berpotensi terkerek naik dari Rp 179,8 per lembar saham menjadi Rp 183,1 per lembar saham pasca-buyback.

Pihak manajemen menguraikan bahwa proyeksi angka tersebut mengacu pada asumsi volume saham yang dibeli kembali menyentuh batas paling banyak 10 persen dari total saham yang disetor.

Pengeluaran transaksi, seperti komisi untuk perantara perdagangan maupun beban pelengkap lainnya, sengaja tidak dimasukkan ke dalam perhitungan proforma lantaran manajemen menilai nominal tersebut tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap laporan laba rugi perusahaan.

Reporter: Gemilang Ramadhan