JAKARTA — Kurs rupiah diproyeksikan bergerak pada kisaran Rp17.600 sampai Rp17.700 per dolar AS dengan tingkat volatilitas yang tinggi hari ini, Jumat (22/5/2026).
Mengacu pada data TradingView, mata uang rupiah ditutup terkoreksi sebesar 0,40% menuju posisi Rp17.670 pada sesi perdagangan hari Kamis (29/5/2026).
Penurunan nilai tukar mata uang Garuda atas dolar AS tersebut selaras dengan pelemahan yang dialami oleh mayoritas mata uang di kawasan Asia lainnya.
Yen Jepang atas dolar AS kedapatan melemah 0,11%, yuan China terkoreksi tipis 0,01%, dolar Singapura menyusut 0,20%, serta won Korea merosot 0,51%.
Dolar Hong Kong atas dolar AS turut melemah 0,01%. Berikutnya, peso Filipina atas dolar AS melemah sebesar 0,11%, dan baht Thailand terdepresiasi 0,34%.
Di lain pihak, Dolar Taiwan bergerak menguat 0,18%, rupee India terpangkas sebesar 0,13%, serta ringgit Malaysia mendapati pelemahan terhadap dolar AS senilai 0,03%.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengungkapkan kurs rupiah kembali bertengger di zona merah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada sesi perdagangan hari ini di tengah sentimen risk off yang didapati masih menyelimuti pasar keuangan dalam negeri.
Merujuk pada data transaksi di pasar spot, rupiah ditutup melempem 13,5 poin ke level Rp17.667 per dolar AS.
Kemerosotan mata uang Garuda terjadi berbarengan dengan tekanan jual pada pasar saham domestik yang belum juga mereda sepanjang beberapa sesi belakangan.
Para pelaku pasar memandang tekanan atas rupiah tak sekadar digerakkan oleh aspek eksternal, melainkan juga dipicu oleh naiknya kecemasan investor terhadap dinamika regulasi domestik.
Salah satu sentimen yang tengah disorot yakni wacana pihak pemerintah mengenai aktivitas ekspor komoditas strategis lewat Danantara Sumberdaya Indonesia.
Agenda tersebut dipandang memantik kekhawatiran para pemodal perihal potensi ketidakpastian hukum ataupun kian ketatnya kendali negara atas sektor swasta, utamanya pada industri yang mengandalkan sumber daya alam.
Di samping sentimen dalam negeri, kalangan investor pun tetap mengamati dinamika global, khususnya prospek rekonsiliasi di Timur Tengah yang berpeluang memengaruhi fluktuasi harga minyak mentah dunia.
Ekskalasi geopolitik yang belum seutuhnya meredup membikin pelaku pasar lebih condong memprioritaskan aset safe haven layaknya dolar AS.
Di pihak lain, kokohnya indeks dolar AS serta merangkaknya imbal hasil obligasi pemerintah AS ikut menyumbang tekanan ekstra bagi mata uang negara berkembang (emerging market), tidak terkecuali rupiah.
Guna perdagangan esok hari, pasar dijadwalkan menanti publikasi data neraca transaksi berjalan Indonesia untuk periode kuartal I/2026.
Defisit pada transaksi berjalan diprediksikan masih bakal membayangi, walau dalam skala yang lebih menciut ketimbang periode sebelumnya, yakni di kisaran US$0,8 miIiar.
Berdasarkan hasil data analisis Doo Financial Futures, rupiah mengawali pembukaan dengan melemah sebesar 0,18% menuju level Rp17.698.
Penurunan nilai tukar mata uang Garuda atas dolar AS tersebut berjalan selaras dengan depresiasi mayoritas mata uang di wilayah Asia lainnya.
Yen Jepang atas dolar AS terpantau melemah 0,10%, dolar Singapura susut sebesar 0,16%, dan won Korea terkoreksi 0,26%. Sementara dolar Hong Kong atas dolar AS ikut melemah 0,02%.