Laba Bersih Indika Energy Melonjak 141,4 Persen di Kuartal I-2026

PT indika energy tbk (Sumber Gambar : kabarbursa.com)
Jumat, 22 Mei 2026 | 13:34:59 WIB

JAKARTA – PT Indika Energy Tbk (INDY) berhasil mencatatkan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk senilai US$ 7 juta sepanjang kuartal I-2026. 

Angka ini memperlihatkan lonjakan tajam sebesar 141,4% jika disandingkan dengan perolehan kuartal I-2025 yang berada di angka US$ 2,9 juta. Tren positif tersebut didorong oleh peningkatan performa Kideco serta efisiensi eksekusi pada pos pengeluaran operasional.

Pada tiga bulan pertama tahun ini, INDY meraup total pendapatan sebesar US$ 493,2 juta, atau naik tipis 0,7% dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$ 489,6 juta. 

Kenaikan omzet ini utamanya ditopang oleh kontribusi kuat dari Interport dan Indika Indonesia Resources, meskipun sumbangsih pendapatan dari Kideco terpantau sedikit melandai.

Kinerja Kideco sendiri terkoreksi sebesar 5,7% menjadi US$ 377,4 juta akibat menyusutnya volume penjualan batu bara sebesar 4,1% menjadi 7 juta ton. Selain itu, harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) Kideco juga turun 1,7% menjadi US$ 51,1 per ton.

Meski begitu, Kideco tetap memenuhi komitmen pemenuhan energi nasional dengan mendistribusikan 3,1 juta ton atau setara 45% dari total volume produksi untuk pasar domestik. 

Jumlah tersebut melampaui ketentuan minimal Domestic Market Obligation (DMO) yang ditargetkan sebesar 25%. Sementara itu, sisa porsi 55% atau sebanyak 3,90 juta ton dialokasikan untuk pasar ekspor ke China, India, Jepang, dan beberapa negara mitra lainnya.

Di sisi lain, Indika Indonesia Resources (IIR) mengukir lonjakan pendapatan hingga 38,3% menjadi US$ 13 juta pada kuartal I-2026. Pertumbuhan ini didorong oleh naiknya volume perdagangan batu bara sebesar 5% menjadi 126.000 ton, dari posisi 120.000 ton pada kuartal I-2025.

Selain dari volume, performa IIR ikut terangkat berkat lonjakan ASP perdagangan batu bara sebesar 88,3% menjadi US$ 88,3 per ton dari sebelumnya US$ 46,9 per ton pada periode yang sama tahun lalu. 

Hal ini sejalan dengan pemasaran komoditas batu bara berkalori lebih tinggi. IIR juga mengantongi omzet US$ 1,9 juta dari perdagangan sektor non-batu bara, khususnya komoditas bauksit dari Mekko.

Entitas anak usaha INDY yang lain, yakni Tripatra dan Interport, juga tidak ketinggalan membukukan pertumbuhan kinerja keuangan.

Tripatra mengamankan kenaikan Pendapatan sebesar 11,2% menjadi US$ 68,7 juta pada kuartal I-2026. Capaian ini disokong penuh oleh pengerjaan proyek APA Geng North senilai US$ 33,9 juta, proyek Kaltim Parna LCO2 (US$ 3,4 juta), PMC untuk proyek UCC (US$ 4,3 juta), proyek PHR Utara (US$ 3,3 juta), serta FEED FPCI untuk proyek LNG Abadi (US$ 2,9 juta).

Sementara itu, Interport Mandiri Utama selaku lini bisnis logistik terintegrasi, mencatatkan pertumbuhan Pendapatan sebesar 53,4% menjadi US$ 43,1 juta karena terdongkrak oleh peningkatan bisnis perdagangan bahan bakar. 

Selama kuartal pertama 2026, struktur pendapatan Interport diisi oleh Cotrans sebesar US$ 16,4 juta, KGTE (penyimpanan bahan bakar) senilai US$ 5,8 juta, perdagangan bahan bakar sebesar US$ 16,8 juta, sedangkan sisanya ditopang oleh Interport Business Park (IBP) serta ILSS.

Pada periode yang sama, INDY sukses mereduksi beban pokok kontrak dan penjualan sebesar 1,6% menjadi US$ 419,2 juta pada kuartal I-2026, dari angka US$ 425,9 juta pada kuartal I-2025. Penurunan ini didorong oleh berkurangnya biaya tunai (cash cost) Kideco termasuk kewajiban royalti yang menjadi sebesar US$ 44,6 per ton.

Alhasil, laba kotor INDY terkerek naik 16,2% menjadi US$ 74 juta, dengan margin laba kotor konsolidasian yang ikut merangkak ke level 15,0% dari posisi semula 13,0% pada kuartal I-2025. 

Situasi ini dipicu oleh perbaikan margin laba kotor Kideco yang menyentuh level 18,9% pada kuartal I-2026 dibandingkan 12,5% pada kuartal I-2025.

Beban penjualan, umum, dan administrasi milik INDY juga turun tipis 0,5% menjadi US$ 36,6 juta pada kuartal I-2026 dari angka sebelumnya US$ 36,8 juta. 

Hal tersebut dipengaruhi oleh menciutnya pos pengeluaran umum dan administrasi, penurunan tipis biaya pemasaran yang sejalan dengan koreksi pendapatan Kideco, serta naiknya Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari Kideco.

Namun demikian, bagian laba bersih dari perusahaan asosiasi INDY terpantau menyusut menjadi US$ 4,5 juta pada kuartal I-2026 dari kuartal sebelumnya sebesar US$ 9,6 juta akibat melemahnya performa PLTU Cirebon (CEPR). 

Di sisi lain, beban keuangan INDY berhasil dipangkas 8,6% menjadi US$ 16 juta pada kuartal I-2026 berkat penurunan rata-rata biaya utang. Melalui akumulasi hasil tersebut, INDY sukses meraup laba bersih US$ 7 juta pada kuartal I-2026.

Keseriusan INDY dalam mendiversifikasi bisnis ke sektor non-batu bara tecermin dari realisasi belanja modal (capex) kuartal I-2026 yang mencapai US$ 26,2 juta, di mana 100% dari dana tersebut diserap oleh sektor non-batu bara.

Bisnis mineral lewat proyek tambang emas Awak Mas menjadi penyerap dana terbesar senilai US$ 20,4 juta, sedangkan sisa capex sebesar US$ 5,8 juta dialokasikan untuk inisiatif bisnis hijau. 

Per tanggal 31 Maret 2026, pengerjaan konstruksi proyek Awak Mas telah mencapai 56,8% dari total target penyelesaian dengan biaya yang terserap sebesar US$ 288,1 juta.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, “Indika Energy tetap menunjukkan ketahanan kinerja yang solid dengan membukukan laba bersih sebesar US$ 7 juta pada kuartal pertama 2026 di tengah dinamika industri energi global,” ujar Direktur Utama dan Group CEO Indika Energy Azis Armand dalam keterangan resmi, Kamis (21/5/2026).

INDY juga terus mematangkan transformasi usahanya, yang mana alokasi belanja modal periode ini seluruhnya diarahkan bagi proyek tambang emas Awak Mas dan bermacam inisiatif hijau lainnya.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, “Langkah ini merupakan bagian penting dari strategi jangka panjang perusahaan yang relevan dengan arah transisi energi global menuju net-zero,” tandas dia.

Reporter: Gemilang Ramadhan