Sektor Bank Berjaya, BBCA Rebut Posisi Kapitalisasi Pasar Tertinggi

Rabu, 20 Mei 2026 | 15:48:37 WIB
Ilustrasi BBCA di BEI (Foto: NET)

JAKARTA – Lanskap kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan pergeseran yang terbilang signifikan selama beberapa bulan belakangan ini.

Kedigdayaan dari saham-saham grup konglomerasi yang sebelumnya menguasai peringkat puncak kini mulai mengalami penurunan, sejalan dengan kembalinya kelompok perbankan, terutama PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), ke urutan teratas.

Per Selasa (19/5/2026), dilaporkan tidak ada lagi emiten di BEI yang mengantongi nilai kapitalisasi pasar di atas Rp 1.000 triliun. Keadaan ini berbanding terbalik dengan situasi pada akhir tahun 2025, ketika PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) sempat menyita perhatian lewat nilai kapitalisasi pasar yang menembus Rp 1.298 triliun atau setara 8,19% dari total keseluruhan kapitalisasi pasar bursa.

Namun demikian, nominal tersebut saat ini merosot secara tajam. Nilai kapitalisasi pasar BREN turun menjadi berkisar Rp 404 triliun, di mana kontribusinya terhadap pasar ikut menyusut menjadi 3,64%. Posisi yang dulunya kokoh di puncak kini harus melosot ke peringkat keempat dalam daftar emiten terbesar di BEI.

Di sisi lain, BBCA terpantau kembali mengukuhkan posisinya sebagai emiten dengan nilai kapitalisasi pasar paling jumbo di BEI. Angkanya berada di kisaran Rp 726 triliun atau setara 6,54% dari total kapitalisasi pasar. Padahal pada akhir 2025, BBCA masih tertahan di urutan kedua dengan nilai kapitalisasi berkisar Rp 985 triliun, sebelum akhirnya tergeser akibat lonjakan saham-saham konglomerasi.

Perubahan posisi juga terlihat pada emiten-emiten lain di sektor non-perbankan. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) mencatatkan penurunan yang cukup dalam, dari peringkat keempat dengan nilai kapitalisasi sekitar Rp 606 triliun turun menjadi kisaran Rp 270 triliun. Sementara itu, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) yang sebelumnya sempat masuk di jajaran tiga besar, saat ini malah terdepak keluar dari daftar 10 besar kapitalisasi pasar BEI. Sebaliknya, saham-saham perbankan kembali menguasai papan atas bursa. Selain BBCA, dua bank raksasa lainnya yaitu PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) serta PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) kini ikut menempati posisi enam besar emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar di BEI.

Fenomena ini menandakan kembalinya dominasi dari sektor finansial setelah periode singkat kejayaan saham-saham kepunyaan konglomerasi. Direktur Purwanto Asset Management, Edwin Sebayang, menilai bahwa pergeseran tersebut menjadi momentum krusial untuk mencermati arah pergerakan pasar modal Indonesia ke depan.

Menurut dia, penanam modal global saat ini semakin selektif dan tidak lagi sekadar melihat dari nominal besarnya kapitalisasi pasar. "Pasar sekarang mulai kembali membedakan market cap riil dengan market cap semu. Investor global lebih peduli pada free float, governance, likuiditas, dan transparansi dibanding sekadar angka kapitalisasi pasar," ujarnya, Selasa (19/5/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Dia mengimbuhkan bahwa penyusutan nilai kapitalisasi pasar tidak secara otomatis mencerminkan penurunan kualitas fundamental suatu emiten. Dalam berbagai contoh kasus, kondisi yang sebenarnya terjadi adalah koreksi valuasi setelah melewati fase reli kenaikan yang terlampau agresif.

"Yang runtuh pertama kali bukan operasional bisnisnya, tetapi persepsi valuasi pasar. Sekarang investor mulai masuk ke fase ‘show me the earnings," katanya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Menurut Edwin, penurunan kapitalisasi pada beberapa emiten skala besar ini turut memengaruhi bobot saham terhadap Indeks Harga Saham Gamma (IHSG). Hal tersebut mengakibatkan dominasi dari segelintir saham konglomerasi atas pergerakan indeks mulai tergerus perlahan-lahan.

Untuk ke depannya, dia memproyeksikan struktur pasar berpeluang menjadi jauh lebih seimbang berkat adanya kontribusi lintas sektor seperti perbankan, konsumer, telekomunikasi, komoditas, energi, hingga sektor industri. Kondisi ini dinilai lebih sehat ketimbang struktur pasar yang terlampau memusat sebelumnya.

Analisis senada disampaikan oleh Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus. Menurut dia, merosotnya nilai kapitalisasi saham-saham konglomerasi berkaitan erat dengan aksi penarikan dana investor asing dari pos saham-saham tersebut.

"Ketika harga saham turun cukup dalam, market cap juga ikut turun. Ini menunjukkan pelaku pasar, khususnya asing, keluar dari saham tersebut," ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Menurut Nico, kondisi pasar saat ini cenderung berjalan lebih selektif, dengan fokus tertuju pada emiten-emiten yang memiliki fundamental kokoh, proyeksi pertumbuhan yang benderang, serta likuiditas memadai sebagai penopang fluktuasi harga.

Di tengah situasi tersebut, dia menyarankan para investor untuk memperhatikan jajaran saham berkapitalisasi besar layaknya BBCA, BBRI, BMRI, TLKM, serta TPIA yang dinilai masih sangat relevan dalam menghadapi volatilitas pasar saat ini.

Terkini