Harga Minyak Dunia Melonjak ke Level Tertinggi dalam Dua Pekan

Selasa, 19 Mei 2026 | 13:34:54 WIB
Lifting Minyak. (Sumber Gambar: merdeka.com)

JAKARTA – Harga minyak mentah dunia melesat tajam hingga mencapai titik tertinggi dalam dua pekan terakhir pada sesi perdagangan Senin (18/5/2026). 

Kenaikan harga ini disebabkan oleh kekhawatiran para pelaku pasar terhadap potensi terhambatnya pasokan minyak akibat meningkatnya konflik di Iran.

Mengutip laporan Reuters melalui Investor Daily, minyak mentah berjangka jenis Brent untuk kontrak pengiriman Juli merangkak naik sebesar US$ 2,84 atau sekitar 2,6 persen, dan berada di level US$ 112,10 per barel saat penutupan. Ini menjadi catatan harga penutupan tertinggi untuk Brent sejak tanggal 4 Mei.

Di waktu yang sama, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Juni melonjak signifikan sebesar US$ 3,24 atau 3,1 persen ke posisi US$ 108,66 per barel. Angka penutupan ini menjadi yang tertinggi untuk WTI sejak tanggal 7 April.

Fluktuasi harga komoditas energi tersebut terpantau sangat tajam mendekati masa habis kontrak WTI Juni pada hari Selasa. 

Sepanjang sesi perdagangan Senin, harga WTI bahkan sempat melambung di atas US$ 4 per barel, meskipun setelah itu sempat berbalik turun lebih dari US$ 2.

Kecemasan pasar global utamanya bersumber dari risiko penutupan jalur distribusi di Selat Hormuz. Jalur ini dikenal sebagai kawasan vital bagi logistik energi dunia yang mengalirkan sekitar 20 persen dari total pasokan minyak global.

Direktur Eksekutif International Energy Agency (IEA) Fatih Birol mengungkapkan bahwa persediaan minyak komersial dunia terus menyusut dalam waktu cepat. 

Keadaan ini disebabkan oleh dampak perselisihan yang berlarut-larut serta ditutupnya akses perairan di Selat Hormuz.

Menurut Birol, langkah penggelontoran cadangan strategis memang dapat menambah pasokan sekitar 2,5 juta barel per hari ke pasar internasional. 

Namun, ia menegaskan bahwa cadangan tersebut tidak akan cukup untuk menopang kebutuhan dalam jangka panjang.

Di tengah situasi panas itu, kepanikan pasar sempat sedikit mereda menyusul keputusan Presiden AS Donald Trump untuk menunda rencana serangan ke Iran yang awalnya dijadwalkan pada hari Selasa. 

Kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, juga mengabarkan bahwa AS mulai membuka celah untuk mencabut sanksi minyak Iran selama proses negosiasi berlangsung.

Pakistan sebagai penengah perdamaian dikabarkan telah menyerahkan draf proposal terbaru dari Iran kepada pihak AS. 

Walaupun kondisi gencatan senjata saat ini dinilai masih sangat rapuh, diplomasi antara kedua pihak belum menghasilkan perkembangan yang signifikan.

Mengenai situasi ini, Donald Trump sempat menyebut situasi gencatan senjata yang ada sekarang sedang bertahan di ujung tanduk.

Lembaga analisis Capital Economics mengingatkan adanya dampak fatal jika Selat Hormuz tidak kembali dibuka dalam beberapa minggu ke depan. 

Perekonomian global diperkirakan akan mengalami perlambatan yang lebih dalam disertai dengan lonjakan inflasi.

Capital Economics memproyeksikan tingkat inflasi di Inggris dan wilayah euro berpotensi menembus angka 5 hingga 6 persen. 

Dampaknya, jajaran bank sentral utama dunia, termasuk Federal Reserve, memiliki potensi kuat untuk menaikkan kembali suku bunga acuan mereka.

Dampak buruk dari mahalnya ongkos energi pun mulai terlihat pada kelesuan ekonomi di China. 

Data resmi dari pemerintah setempat menunjukkan output industri dan angka penjualan ritel di negara tersebut melemah sepanjang bulan April akibat tingginya harga energi serta lemahnya daya beli domestik.

Kondisi ekonomi ini pada akhirnya berdampak pada volume pengolahan minyak mentah di China yang merosot ke level terendah sejak Agustus 2022. 

Penurunan ini sejalan dengan melemahnya produktivitas kilang di negara yang berstatus sebagai konsumen minyak terbesar kedua di dunia tersebut.

Terkini