65 Juta UMKM Indonesia Hadapi Tantangan Disrupsi Ekonomi

Rabu, 06 Mei 2026 | 15:32:15 WIB
Ilustrasi UMKM (https://mirror.mui.or.id/wp-content/uploads/2021/12/Foto-UMKM.jpeg)

JAKARTA – UMKM Indonesia saat ini mencapai lebih dari 65 juta unit usaha, berkontribusi sekitar 61 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), serta menyerap hingga 97 persen tenaga kerja nasional — namun di balik angka-angka besar itu tersimpan paradoks yang mengkhawatirkan di tengah dera disrupsi ekonomi yang terus menguat.

Demikian antara lain pandangan Mohammad Nur Rianto Al Arif, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sekaligus Sekretaris Jenderal DPP Asosiasi Dosen Indonesia, dalam tulisan opininya yang diterbitkan di Kompas, Senin (4/5/2026). Ia menegaskan bahwa meski jumlah UMKM sangat besar, sekitar 99,7 persen di antaranya masih tergolong usaha mikro — mayoritas berada dalam kondisi rentan dengan produktivitas rendah, akses terbatas, dan daya tahan lemah terhadap guncangan ekonomi.

Disrupsi yang kini berlangsung, menurut Nur Rianto, tidak lagi berjalan secara bertahap melainkan secara eksponensial. Perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan, otomatisasi, hingga ekonomi platform telah mengubah secara fundamental cara produksi, distribusi, dan konsumsi sehingga dunia usaha tidak lagi bergerak secara linear.

Bagi UMKM, disrupsi ekonomi menghadirkan dua sisi sekaligus. Di satu sisi terbuka peluang besar seperti akses pasar yang lebih luas, efisiensi operasional, dan percepatan inovasi produk melalui ekosistem e-commerce. Namun di sisi lain, UMKM kini berhadapan dengan kompetisi yang jauh lebih ketat, bukan hanya melawan pelaku lokal tetapi juga produk global yang masuk lewat platform digital, sehingga digitalisasi tanpa kesiapan justru berpotensi memaksa UMKM terjebak dalam perang harga yang menekan margin keuntungan.

Nur Rianto juga menyoroti bahwa narasi besar "UMKM naik kelas" masih lebih sering menjadi jargon daripada kenyataan. Pertumbuhan jumlah UMKM sektor non-pertanian pada 2025 hanya sekitar 0,07 persen, sementara struktur UMKM masih didominasi usaha subsisten yang bertahan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, bukan untuk ekspansi.

Faktor produktivitas disebut sebagai kunci penentu masa depan UMKM. Banyak pelaku usaha masih beroperasi dengan teknologi sederhana, manajemen yang minim, serta akses pasar yang terbatas, sehingga nilai tambah yang dihasilkan relatif rendah dan membuat UMKM sulit keluar dari perangkap skala kecil.

Globalisasi menjadi pemberat tambahan. Kontribusi ekspor UMKM Indonesia tercatat baru sekitar 15,7 persen, jauh dari potensi sesungguhnya, sementara produk impor dari negara berbiaya produksi rendah kian mudah masuk ke pasar domestik melalui e-commerce lintas negara.

Menyikapi kondisi ini, Nur Rianto memetakan tiga skenario masa depan UMKM Indonesia: skenario optimistis jika UMKM berhasil beradaptasi melalui peningkatan produktivitas dan digitalisasi inklusif; skenario moderat jika UMKM tetap bertahan namun tanpa transformasi berarti; serta skenario pesimistis jika tekanan disrupsi ekonomi justru menggulung UMKM dan memperparah ketimpangan. Ia menekankan bahwa strategi ke depan harus bergeser dari sekadar menambah jumlah UMKM menuju peningkatan kualitas, dengan digitalisasi diperlakukan sebagai alat — bukan tujuan akhir — serta disertai reformasi kebijakan dan penguatan ekosistem secara menyeluruh.

Terkini