TDA: UMKM 2026 Harus Efisiensi dan Kelola Arus Kas dengan Ketat

Selasa, 05 Mei 2026 | 16:24:42 WIB
Ilustrasi Komunitas Pengusaha Tangan Di Atas (TDA) (https://scontent-cgk1-2.xx.fbcdn.net/v/t1.6435-9/206227297_10225616451419013_4361669243565251957_n.jpg?_nc_cat=111&ccb=1-7&_nc_sid=25d718&_nc_ohc=qbSNcxaX0owQ7kNvwEt8O5r&_nc_oc=AdqaZigXdnaRoQ-CnMnnu2Gq-U

JAKARTA – Komunitas TDA proyeksikan ekonomi Indonesia 2026 masih tahan, namun UMKM diminta cermat kelola arus kas dan efisiensi menghadapi tekanan global.

Di tengah tanda-tanda perlambatan ekonomi dunia, pelaku usaha kecil justru menghadapi ujian sesungguhnya bukan dari angka pertumbuhan nasional, melainkan dari tekanan nyata yang mereka rasakan di lapangan setiap harinya. Komunitas Pengusaha Tangan Di Atas (TDA) menilai kondisi itu mencerminkan kesenjangan antara data makroekonomi yang tampak positif dengan realitas yang dihadapi para pelaku UMKM.

Majelis Wali Amanah Komunitas Pengusaha Tangan di Atas (TDA) Wisnu Dewobroto menyampaikan, secara makro, pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap positif pada kuartal I-2026, didukung oleh konsumsi domestik dan investasi. Namun, kondisi di lapangan ternyata jauh lebih rumit dari yang terlihat pada data-data tersebut.

"Namun di lapangan, pelaku usaha khususnya UMKM merasakan dinamika yang lebih kompleks," ujar dia kepada Kompas.com, Senin (4/5/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Dalam sektor UMKM, konsumsi tetap ada, tetapi lebih selektif dengan perilaku value for money yang meningkat. Di sisi lain, pertumbuhan terasa tidak merata antarsektor UMKM, sementara pelaku usaha cenderung lebih berhati-hati dalam ekspansi bisnisnya.

"Secara umum, kondisi saat ini bisa digambarkan sebagai tumbuh, tetapi dalam tekanan dan penuh kehati-hatian," imbuh dia, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Wisnu menjabarkan, dalam praktiknya, pengusaha di TDA menghadapi sejumlah tantangan utama di tahun 2026, antara lain adanya tekanan global yang menyebabkan perlambatan ekonomi dunia dan geopolitik. Dari sisi konsumen, daya beli dinilai belum sepenuhnya pulih, yang dibuktikan dengan konsumen yang lebih rasional dalam melakukan konsumsi.

Di tengah kondisi yang masih lesu, biaya operasional justru meningkat pada beberapa komoditas seperti bahan baku, logistik, dan energi. Pengusaha juga mengalami ketidakpastian regulasi yang pada akhirnya dapat memengaruhi kepercayaan bisnis, ditambah akses pembiayaan yang masih terbatas terutama bagi UMKM non-bankable.

Merespons berbagai tekanan itu, Wisnu memberikan sejumlah rekomendasi strategi bertahan yang dinilai paling relevan bagi pelaku UMKM saat ini. Strategi tersebut berpusat pada pengelolaan arus kas yang lebih ketat dan efisiensi operasional sebagai fondasi utama keberlangsungan usaha.

Ia menyarankan para pelaku usaha untuk fokus pada efisiensi biaya tanpa mengorbankan kualitas produk atau layanan yang selama ini menjadi keunggulan mereka. Selain itu, pengelolaan arus kas secara disiplin juga menjadi hal yang tidak bisa diabaikan di tengah kondisi bisnis yang penuh ketidakpastian seperti sekarang ini.

Tidak hanya bertahan, Wisnu juga mendorong para pelaku UMKM untuk berani berinovasi pada produk maupun model bisnis mereka guna menjawab perubahan perilaku konsumen yang makin selektif. Pemanfaatan teknologi digital pun disebut sebagai langkah strategis yang perlu segera diadopsi agar UMKM tidak tertinggal di tengah persaingan yang kian ketat di tahun 2026.

Terkini