JAKARTA - Pergerakan aktivitas perdagangan luar negeri Indonesia kembali menunjukkan dinamika menarik pada awal tahun 2026.
Di tengah berbagai tantangan global, kinerja impor nasional justru mencatat pertumbuhan yang cukup signifikan secara tahunan. Kondisi ini mencerminkan adanya peningkatan kebutuhan industri dan aktivitas ekonomi dalam negeri.
Lonjakan impor tersebut menjadi indikator penting yang menggambarkan geliat sektor produksi nasional. Meski terjadi penurunan secara bulanan, tren tahunan tetap menunjukkan arah positif yang didorong oleh permintaan terhadap barang tertentu. Hal ini sekaligus menjadi sinyal bahwa roda ekonomi terus bergerak dengan dukungan pasokan dari luar negeri.
Kinerja Impor Februari 2026
Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatatkan pertumbuhan nilai impor secara tahunan pada Februari 2026. Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan, kinerja impor Indonesia pada periode tersebut sebesar US$ 20,89 miliar.
Secara bulanan, nilai tersebut turun 1,45% dari Januari 2026. Namun, masih tumbuh 10,85% year-on-year (yoy) dari Februari 2025. Adapun peningkatan impor secara tahunan terutama didorong impor nonmigas yang tumbuh 18,24% yoy, di tengah penurunan impor migas sebesar 30,36% yoy.
Data ini menunjukkan bahwa sektor nonmigas menjadi penopang utama pertumbuhan impor Indonesia. Perubahan komposisi ini juga mencerminkan pergeseran kebutuhan industri yang lebih banyak bergantung pada bahan dan barang nonmigas.
Akumulasi Impor Awal Tahun
Selanjutnya, secara kumulatif Januari–Februari 2026, total impor mencapai US$ 42,09 miliar atau naik 14,44% yoy dari Januari-Februari 2025. Kenaikan tersebut ditopang impor nonmigas sebesar 17,49%, sementara impor migas terkoreksi sebesar 3,50%.
Kinerja kumulatif ini memperkuat tren pertumbuhan yang telah terlihat sejak awal tahun. Meski sektor migas mengalami penurunan, kontribusi nonmigas mampu menjaga total impor tetap berada dalam jalur positif.
Hal ini juga menjadi indikator bahwa aktivitas industri dan perdagangan masih membutuhkan pasokan bahan baku dari luar negeri. Dengan demikian, impor tetap memainkan peran penting dalam mendukung stabilitas ekonomi nasional.
Pertumbuhan Berdasarkan Jenis Barang
Sementara itu, berdasarkan golongan penggunaan barangnya (BEC), seluruh komponen impor mencatatkan pertumbuhan. Impor barang modal meningkat paling tinggi sebesar 34,44%, diikuti barang konsumsi 15,60%, dan bahan baku atau penolong 9,27%.
Menurut Budi, kenaikan impor barang modal dan bahan baku atau penolong pada Januari–Februari 2026 merupakan indikator positif bagi industri nasional. Peningkatan ini menunjukkan adanya ekspansi produksi yang membutuhkan dukungan peralatan dan bahan tambahan.
“Hal ini selaras dengan Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur S&P Global Indonesia yang meningkat ke level 53,8 pada Februari 2026, tertinggi sejak Maret 2024," ujar Budi dalam keterangan resmi, dikutip Jumat (10/4/2026).
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa sektor manufaktur sedang berada dalam fase ekspansi. Hal ini tentu memberikan harapan terhadap pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat ke depan.
Komoditas dengan Lonjakan Tertinggi
Dari sisi komoditas, lonjakan impor nonmigas tertinggi terjadi pada kendaraan udara dan bagiannya (HS 88) yang melonjak signifikan sebesar 869,38%. Selain itu, impor logam mulia, perhiasan, dan permata (HS 71) naik 91,85%, serta garam, belerang, batu, dan semen (HS 25) tumbuh 63,62% pada Januari-Februari 2026.
Kenaikan pada beberapa komoditas ini menunjukkan adanya kebutuhan spesifik yang meningkat di dalam negeri. Sektor tertentu tampaknya sedang melakukan penguatan, baik dari sisi investasi maupun produksi.
Lonjakan signifikan pada kendaraan udara juga menjadi perhatian, mengingat nilainya yang sangat tinggi dibandingkan komoditas lain. Hal ini dapat berkaitan dengan kebutuhan transportasi atau proyek tertentu yang membutuhkan peralatan khusus.
Negara Asal Impor dan Tren Global
Berdasarkan negara asalnya, impor nonmigas Indonesia masih didominasi oleh China, Australia, dan Singapura dengan kontribusi gabungan mencapai 53,47%. Ketiga negara tersebut tetap menjadi mitra utama dalam memenuhi kebutuhan impor Indonesia.
Di sisi lain, negara asal impor nonmigas dengan pertumbuhan tertinggi, antara lain Prancis yang melonjak 258,88%, Uni Emirat Arab naik 138,26%, serta Singapura meningkat 102,75%. Pertumbuhan ini menunjukkan adanya diversifikasi sumber impor yang semakin luas.
Kondisi ini mencerminkan hubungan perdagangan internasional Indonesia yang semakin berkembang. Dengan semakin banyaknya negara mitra, peluang untuk mendapatkan pasokan barang dengan kualitas dan harga kompetitif juga semakin terbuka.
Secara keseluruhan, kinerja impor Indonesia pada Februari 2026 memberikan gambaran bahwa aktivitas ekonomi masih berjalan dinamis. Dukungan dari sektor nonmigas menjadi faktor utama yang menjaga pertumbuhan tetap positif di tengah berbagai tantangan global.