Harga Batu Bara Menguat Lagi di Tengah Lonjakan Energi Global Saat Ini

Jumat, 03 April 2026 | 11:09:16 WIB
Harga Batu Bara Menguat Lagi di Tengah Lonjakan Energi Global Saat Ini

JAKARTA - Pergerakan harga komoditas energi kembali menjadi sorotan setelah batu bara menunjukkan tanda pemulihan. 

Setelah sempat mengalami tekanan cukup dalam, kini harga batu bara mulai bergerak naik seiring dengan dinamika pasar energi global yang ikut bergejolak. Kondisi ini menjadi perhatian pelaku pasar karena berpengaruh pada rantai pasok energi dunia.

Berdasarkan data dari Refinitiv, pada perdagangan Kamis, harga batu bara ditutup di level US$139,3 per ton. Angka ini mencatat kenaikan tipis sebesar 0,14% dibandingkan sebelumnya. Meskipun terlihat kecil, kenaikan ini memberikan sinyal bahwa tekanan terhadap harga mulai mereda.

Sebelumnya, harga batu bara sempat mengalami penurunan cukup tajam hingga 6,6% dalam dua hari perdagangan. Kondisi tersebut sempat memicu kekhawatiran di kalangan pelaku industri energi. Namun, tren pemulihan yang muncul belakangan ini memberikan optimisme baru terhadap pasar.

Pergerakan harga energi global dorong kenaikan batu bara

Kenaikan harga batu bara tidak terjadi secara terpisah, melainkan dipengaruhi oleh lonjakan harga energi global lainnya. Salah satu pemicunya adalah meningkatnya harga minyak mentah dan gas yang turut memberikan efek domino terhadap komoditas energi lain.

Harga minyak mentah jenis Brent pada perdagangan yang sama tercatat melonjak signifikan. Berdasarkan data, harga minyak berada di posisi US$109,28 per barel dengan kenaikan 8,03%. Sementara itu, harga gas di Eropa juga mengalami peningkatan sebesar 2,5%.

Sebagai komoditas substitusi, batu bara kerap menjadi alternatif ketika harga minyak dan gas meningkat. Oleh karena itu, kenaikan harga energi lainnya cenderung mendorong permintaan batu bara, yang pada akhirnya ikut mengerek harganya di pasar global.

Gangguan pasokan energi akibat ketegangan geopolitik

Faktor geopolitik juga turut memberikan pengaruh besar terhadap pergerakan harga energi dunia. Salah satu yang menjadi sorotan adalah gangguan jalur perdagangan minyak dan gas yang terjadi akibat ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Aliran perdagangan minyak bumi dan LNG mengalami hambatan setelah adanya pembatasan pada jalur distribusi penting. Kondisi ini menyebabkan pasar global mengalami kekhawatiran terhadap potensi kelangkaan pasokan energi.

Situasi tersebut mendorong peralihan sementara dari gas ke batu bara sebagai sumber energi alternatif. Meskipun tidak terjadi secara instan, perubahan ini memberikan dampak langsung terhadap peningkatan permintaan batu bara di pasar internasional.

Proyeksi permintaan batu bara global meningkat signifikan

Lembaga riset seperti Bloomberg Intelligence memperkirakan adanya peningkatan permintaan batu bara jika gangguan pada pasokan LNG terus berlanjut. Estimasi tambahan permintaan bisa mencapai 40 hingga 60 juta ton batu bara termal secara global.

Jumlah tersebut setara dengan sekitar 4 hingga 6 persen dari total perdagangan batu bara dunia. Angka ini tentu bukan jumlah kecil dan dapat memberikan dampak signifikan terhadap harga batu bara ke depan.

Meskipun secara teori peralihan dari gas ke batu bara memungkinkan, proses tersebut tidak berlangsung secara cepat. Dibutuhkan waktu bagi negara-negara untuk menyesuaikan sistem energi mereka.

Di kawasan Eropa, misalnya, kemampuan untuk melakukan switching dari gas ke batu bara semakin terbatas. Hal ini disebabkan oleh banyaknya pembangkit listrik tenaga uap yang telah ditutup serta meningkatnya penggunaan energi terbarukan.

Proses transisi energi ini umumnya berlangsung dalam hitungan minggu, bukan dalam waktu singkat. Namun demikian, tanda-tanda peningkatan konsumsi batu bara sudah mulai terlihat di beberapa negara seperti Jepang dan sejumlah negara di Eropa.

Kondisi pasar China turut memberi pengaruh besar

Selain faktor global, dinamika di China juga menjadi salah satu pendorong pergerakan harga batu bara. Negara tersebut merupakan salah satu konsumen dan produsen batu bara terbesar di dunia, sehingga setiap perubahan di sana berdampak luas.

Berdasarkan laporan dari Sxcoal, China saat ini tengah melakukan perbaikan pada jalur transportasi utama batu bara, yaitu Daqin Railway. Jalur ini menghubungkan kawasan tambang di Datong dengan pelabuhan Qinhuangdao.

Daqin Railway merupakan jalur vital yang digunakan untuk distribusi batu bara domestik. Dengan adanya perbaikan, distribusi batu bara diperkirakan akan terganggu dalam jangka waktu tertentu.

Perawatan jalur tersebut dimulai pada 1 April 2026 dan diperkirakan berlangsung selama satu bulan. Dalam kondisi normal, jalur ini mampu mengangkut sekitar 1,2 hingga 1,3 juta ton batu bara per hari.

Dengan adanya penurunan kapasitas, pasokan batu bara ke pasar domestik China akan berkurang. Kondisi ini berpotensi mendorong kenaikan harga, terutama jika permintaan tetap tinggi.

Namun, dampak kenaikan harga tersebut kemungkinan akan terbatas. Hal ini disebabkan oleh kondisi permintaan listrik di China yang masih relatif stabil dan belum menunjukkan lonjakan signifikan.

Secara keseluruhan, kombinasi antara faktor global dan kondisi domestik di China membuat harga batu bara kembali menguat. Pergerakan ini menunjukkan bahwa pasar energi dunia masih sangat dinamis dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari geopolitik hingga kebijakan energi suatu negara.

Terkini