Mendikdasmen Resmikan Ruang Kelas Darurat Pidie Jaya Percepat Pemulihan Pendidikan

Selasa, 10 Maret 2026 | 15:13:30 WIB
Mendikdasmen Resmikan Ruang Kelas Darurat Pidie Jaya Percepat Pemulihan Pendidikan

JAKARTA - Pemulihan sektor pendidikan pascabencana menjadi perhatian serius pemerintah agar proses belajar mengajar tetap berjalan tanpa hambatan berarti. 

Ketika fasilitas sekolah rusak, keberadaan ruang belajar sementara menjadi penopang utama agar siswa tidak kehilangan hak pendidikan. Langkah cepat inilah yang kini diprioritaskan demi menjaga keberlangsungan aktivitas akademik.

Pemerintah menilai, percepatan penyediaan sarana darurat sama pentingnya dengan rekonstruksi bangunan permanen. Siswa membutuhkan ruang yang aman dan layak supaya kegiatan belajar tetap efektif. Karena itu, berbagai dukungan infrastruktur dan bantuan pembelajaran terus digulirkan ke wilayah terdampak.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti memastikan pemulihan pembelajaran dan infrastruktur pendidikan terus dilakukan pascabanjir Sumatera. Komitmen tersebut diwujudkan melalui peresmian Ruang Kelas Darurat yang langsung bisa dimanfaatkan peserta didik di daerah terdampak paling parah.

Menurut pernyataan diterima di Jakarta, Selasa, Abdul Mu'ti melakukan kunjungan ke SMA Negeri 2 Mereudeu di Kabupaten Pidie Jaya. Dalam agenda tersebut, ia menyapa peserta didik, menyerahkan bantuan buku, memberikan motivasi, serta meresmikan enam RKD pada Senin (9/3).

"Saya mengunjungi SMA Negeri 2 Mereudeu di Pidie Jaya untuk meresmikan enam RKD dan membagikan sejumlah bantuan buku serta peralatan sekolah. Ini adalah wujud nyata upaya kami untuk mempercepat proses pembangunan dan rekonstruksi pasca-musibah yang melanda di Sumatra, khususnya di Kabupaten Pidie Jaya," kata Mendikdasmen.

Fasilitas Sementara Untuk Menjaga Kelangsungan Belajar

Terkait enam RKD yang diresmikan, Abdul Mu'ti menjelaskan pembangunan tersebut dilakukan sebagai solusi sementara sambil menunggu rekonstruksi gedung utama sekolah. Pemerintah ingin memastikan siswa tetap memiliki ruang belajar representatif meskipun sarana permanen belum tersedia.

Langkah ini dinilai penting agar kegiatan akademik tidak terhenti terlalu lama. Ruang kelas darurat dirancang tetap nyaman sehingga siswa dapat belajar dengan suasana yang kondusif.

"Kami terus mengusahakan agar pelaksanaan rekonstruksi gedung sekolah dapat segera dilakukan. Dan juga ketika gedung sekolah sudah berdiri, RKD dapat dimanfaatkan seperti kantin atau hal lainnya terkait proses pembelajaran," ujarnya.

Keberadaan fasilitas darurat ini menjadi jembatan penting antara masa tanggap bencana dan tahap pembangunan kembali. Pemerintah berharap transisi pemulihan berjalan lebih cepat dan terarah.

Sekolah Paling Terdampak Banjir

Sementara itu, Kepala SMA Negeri 2 Mereudeu Muhammadiah menuturkan sekolahnya merupakan yang paling parah terdampak banjir pada akhir November 2025 lalu. Kerusakan bangunan membuat aktivitas belajar harus dilakukan dalam kondisi terbatas.

"Di tengah suasana bulan suci Ramadhan ini, kami mengucapkan rasa syukur peresmian enam RKD. Kami sangat tersanjung akan kunjungan Menteri Mu'ti, ini menjadi sebuah momentum untuk kami dapat bangkit dan terus lebih baik ke depannya," ujar Diah.

Ia menambahkan, sekolah tersebut termasuk dalam daftar pembangunan ulang gedung oleh Kemendikdasmen bersama Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat. Seluruh bangunan lama nantinya akan diratakan sebelum dibangun ulang sesuai desain baru.

Menurutnya, dukungan pemerintah memberi harapan besar bagi tenaga pendidik dan siswa untuk kembali menata proses belajar secara normal. Momentum ini menjadi titik kebangkitan pascabencana.

Kolaborasi Pembangunan Infrastruktur Pendidikan

Diah menambahkan SMA Negeri 2 Mereudeu juga menjadi salah satu sekolah di Kabupaten Pidie Jaya yang akan dibangun gedung baru oleh Kemendikdasmen bersama Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat. Kolaborasi ini dilakukan untuk mempercepat proses rekonstruksi.

Seluruh bangunan sekolah, kata dia, akan diratakan dan kembali dibangun sesuai perencanaan gambar bangunan terbaru. Desain baru diharapkan menghadirkan fasilitas yang lebih aman dan modern.

Sinergi lintas lembaga dinilai menjadi kunci percepatan pemulihan pendidikan. Pemerintah ingin memastikan proses pembangunan berjalan efektif dan tepat sasaran.

Kerja sama tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pemulihan pendidikan membutuhkan dukungan banyak pihak. Infrastruktur yang memadai menjadi fondasi penting kualitas pembelajaran jangka panjang.

Pengalaman Siswa Kembali Belajar di Ruang Layak

Sementara itu, Israqiah, siswi SMA Negeri 2 Mereudeu, mengatakan sebelum adanya RKD proses pembelajaran berlangsung sederhana di tenda darurat beralaskan terpal. Kondisi tersebut membuat kegiatan belajar kurang nyaman.

"Saya melihat langsung proses pembangunan RKD ini yang sangat cepat. Ruangannya cukup baik, ada bangku, meja, dan papan tulis. Senang rasanya bisa kembali belajar di ruang kelas," ucap Isra.

Senada dengan Isra, Ziadatul Una menyebut kembali ke ruang kelas menjadi hal yang lama didambakan ia dan teman-temannya sejak bencana terjadi. Fasilitas baru menghadirkan semangat belajar yang lebih baik.

"Kami sangat bersyukur untuk semua bantuan yang hari ini kami terima. Semoga pendidikan di kota kami kembali pulih dan kami semua dapat bersekolah dengan aman dan bahagia," ucap Una.

Dukungan Bantuan dan Program Nasional Pendidikan

Dalam kunjungan itu Abdul Mu’ti turut membagikan bantuan buku pembelajaran serta Bantuan Pendidikan Tahun 2026 senilai Rp25 juta. Dukungan tersebut melengkapi penyediaan fasilitas belajar sementara bagi sekolah terdampak.

Di Kabupaten Pidie Jaya sendiri terdapat 21 RKD yang tersebar di lima sekolah. Seluruhnya disiapkan agar siswa tetap memperoleh layanan pendidikan yang layak.

Per 6 Maret 2026 Kemendikdasmen telah melakukan Perjanjian Kerja Sama dengan 1.642 sekolah dengan nilai bantuan mencapai lebih dari Rp1,741 triliun. Sebanyak 1.357 sekolah dikerjakan secara swakelola dan 187 sekolah lainnya dikerjakan oleh TNI AD.

Program ini menegaskan komitmen pemerintah dalam menjaga kesinambungan pendidikan nasional. Pemulihan tidak hanya berfokus pada bangunan fisik, tetapi juga dukungan fasilitas belajar dan kesejahteraan peserta didik.

Terkini