JAKARTA - Ragam tradisi menyambut dan menjalankan Ramadan di seluruh dunia menunjukkan betapa kuatnya hubungan antara praktik keagamaan dengan kultur lokal yang berbeda-beda di tiap negara.
Dari ritual meriah di Timur Tengah hingga perayaan penuh warna di wilayah kepulauan, tradisi Ramadan tidak hanya soal ibadah puasa tetapi juga tentang penguatan komunitas, kebersamaan, dan ekspresi budaya yang khas. Meski tujuan spiritualnya sama, cara umat Muslim di berbagai belahan dunia menyemarakkan bulan suci ini justru sangat variatif dan menarik untuk digali lebih dalam.
Tradisi Ramadan Mesir: Cahaya Fanous dan Meja untuk Semua
Salah satu tradisi paling dikenal saat Ramadan di Mesir adalah penggunaan lentera yang disebut fanous. Lentera ini menghiasi jalan, rumah, dan tempat umum sepanjang bulan puasa, menciptakan suasana penuh warna dan kegembiraan yang berbeda dari apa yang biasa terlihat di Indonesia.
Fenomena visual ini telah menjadi simbol Ramadan di Mesir dan menunjukkan penggabungan budaya lokal dengan makna religius bulan suci.
Selain itu, di beberapa komunitas Mesir terdapat tradisi Ma’idat ar-Rahman, yakni penyediaan meja besar berisi makanan dan minuman untuk berbuka. Meja-meja ini terbuka bagi siapa saja yang ingin berbuka, khususnya mereka yang mungkin tidak memiliki kemampuan untuk menyiapkan buka puasa sendiri. Tradisi ini menggambarkan semangat berbagi dan solidaritas sosial yang menjadi inti dari Ramadan di negara tersebut.
Qaranqasho di Oman: Versi Ramadan yang Penuh Warna untuk Anak-Anak
Di Oman, tradisi yang dikenal dengan nama Qaranqasho menjadi momen istimewa bagi anak-anak di pertengahan bulan Ramadan. Mirip dengan tradisi trick-or-treat yang dikenal di budaya Barat, anak-anak mengenakan pakaian tradisional dan berkeliling dari rumah ke rumah sambil bernyanyi, lalu menerima permen, kacang, atau uang dari tetangga.
Kegiatan ini bukan hanya hiburan semata, tetapi juga merupakan cara mengapresiasi mereka yang telah berpuasa setengah bulan dan supaya semangat mereka tetap terjaga hingga akhir Ramadan.
Dalam konteks yang sama, tradisi seperti ini mengajarkan nilai berbagi dan kebersamaan sejak usia dini, sekaligus mempererat hubungan antarwarga dalam komunitas. Hal tersebut dapat terlihat sebagai bentuk pendidikan sosial dan religius yang terpadu.
Maahefun di Maldives: Perayaan Sebelum Ramadan Dimulai
Berbeda dengan tradisi yang muncul saat atau di tengah Ramadan, di Maldives terdapat tradisi Maahefun yang dilakukan sebelum bulan puasa dimulai. Keluarga dan teman berkumpul dalam pesta besar yang penuh makanan sebagai persiapan batin dan fisik menyambut bulan suci. Acara ini sering dimanfaatkan sebagai momen saling memaafkan dan mempererat hubungan sosial dengan orang-orang terdekat.
Walaupun suasanya mirip pesta, nilai spiritual dalam tradisi ini sangat kuat. Ritual ini menggambarkan bagaimana komunitas Muslim di Maldives menggabungkan keceriaan sosial dengan refleksi diri menjelang bulan penuh berkah.
Gargee’an di Teluk Arab: Perayaan Ramadhan yang Mengajak Bersama
Negara-negara di kawasan Teluk seperti Kuwait, Qatar, Bahrain, dan Irak memiliki tradisi yang dikenal sebagai Gargee’an. Sepanjang Ramadan, terutama di pertengahan bulan, anak-anak dan keluarga akan berkumpul mengenakan pakaian warna-warni, bernyanyi, dan berjalan dari rumah ke rumah untuk mengumpulkan permen dan kacang.
Tradisi ini menunjukkan sisi sosial Ramadan yang hangat dan inklusif, di mana seluruh anggota komunitas ikut dilibatkan. Gargee’an bukan hanya tentang mendapatkan suguhan manis, tetapi juga tentang mempererat relasi antarwarga dan merayakan bulan penuh berkah bersama.
Mesaharaty dan Iftar Cannon: Penanda Waktu yang Penuh Tradisi di Arab
Sebelum teknologi jam modern menjadi umum, di banyak negara Arab terdapat tradisi Mesaharaty, yaitu sosok yang berkeliling pada dini hari sambil memainkan alat musik tradisional untuk membangunkan warga agar sahur.
Tradisi ini masih dipertahankan di beberapa komunitas sebagai bentuk pelestarian budaya dan simbol kebersamaan komunitas Muslim yang saling mendukung dalam menjalankan ibadah puasa.
Selain itu, tradisi Iftar Cannon juga populer di beberapa negara, di mana suara dentuman meriam menjadi penanda waktu berbuka puasa saat adzan Maghrib berkumandang.
Praktik ini awalnya bersifat pragmatis, memberi tanda waktu kepada seluruh masyarakat sebelum keberadaan jam akurat dan media massa, namun kini lebih menjadi simbol khas Ramadan di kawasan tersebut.
Ramadan sebagai Wadah Ekspresi Budaya Global
Dari lentera warna-warni di Mesir hingga tradisi Qaranqasho di Oman dan meriam iftar di Arab, terlihat bahwa Ramadan bukan hanya ritual keagamaan yang seragam di seluruh dunia. Ia merupakan wadah bagi masyarakat Muslim untuk mengekspresikan budaya lokal mereka dalam konteks spiritual yang sama.
Tradisi-tradisi ini memperkuat ikatan komunitas, mengajarkan nilai sosial dan religius, dan memberikan makna tambahan pada bulan suci yang diperingati umat Islam secara global.
Dengan mempelajari tradisi-tradisi unik Ramadan dari berbagai negara, kita dapat melihat betapa kaya dan beragamnya cara umat Muslim di seluruh dunia menjalankan dan merayakan bulan yang penuh berkah ini.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa di balik kesamaan dalam keyakinan, ekspresi budaya tetap memainkan peran penting dalam kehidupan beragama masyarakat di berbagai penjuru dunia.