Daya Beli Lesu & Bunga Tinggi, Adira Finance Sebut Bisnis 2026 Berat
TEROPONGBISNIS.ID — Adira Finance menilai bisnis multifinance pada semester II-2026 bakal lebih menantang dibanding awal tahun. Wakil Direktur Utama Adira Finance, Niko Kurniawan, menyebut tekanan datang dari ketegangan global, pelemahan nilai tukar, suku bunga tinggi, dan daya beli masyarakat yang melemah.
Kombinasi faktor itu membuat perusahaan pembiayaan tidak bisa lagi sekadar mengandalkan pertumbuhan volume kredit. Adira Finance mencatat tekanan paling terasa di segmen pembiayaan mobil dan motor bekas.
Tekanan di Segmen Otomotif
Perubahan juga muncul di segmen mobil baru. Niko menyebut terjadi pergeseran ke mobil buatan Jepang yang dinilai lebih murah, seiring konsumen semakin sensitif terhadap harga.
Pelemahan daya beli membuat masyarakat menahan pengeluaran besar, termasuk membeli kendaraan. Suku bunga yang tinggi memperkuat tren itu karena cicilan bulanan jadi lebih mahal.
Di sisi lain, pelemahan nilai tukar turut menekan industri otomotif. Komponen impor dan harga kendaraan berpotensi naik, sehingga makin memberatkan calon pembeli.
Strategi di Tengah Suku Bunga Tinggi
Menghadapi kondisi itu, Adira Finance tidak berhenti menyalurkan pembiayaan kendaraan. Perusahaan tetap mendorong pembiayaan kendaraan baru maupun bekas, namun dengan penekanan pada kualitas aset yang baik.
Langkah lain adalah melirik pembiayaan non-otomotif sebagai sumber pertumbuhan baru. Diversifikasi ini dinilai penting agar kinerja tidak sepenuhnya bergantung pada sektor otomotif yang sedang lesu.
Strategi pendanaan juga menjadi perhatian di era suku bunga tinggi. Biaya dana yang mahal menuntut perusahaan pembiayaan lebih selektif dalam menyalurkan kredit agar margin tetap terjaga.
Dampak ke Konsumen dan Pelaku Usaha
Bagi konsumen, kondisi ini berarti cicilan kendaraan berpotensi lebih berat dibanding periode suku bunga rendah. Calon pembeli juga menghadapi pilihan harga yang bergeser ke model-model lebih terjangkau.
Pelaku usaha di sektor otomotif, mulai dealer hingga bengkel, ikut merasakan imbasnya. Penjualan yang melambat mengurangi perputaran usaha mereka.
Bagi investor, pernyataan Adira Finance ini menjadi sinyal bahwa sektor multifinance menghadapi tantangan nyata pada paruh kedua 2026. Kualitas pembiayaan dan strategi pendanaan akan jadi faktor penentu kinerja.
Penjelasan lengkap soal strategi penyaluran pembiayaan dan pendanaan multifinance di era suku bunga tinggi disampaikan Niko Kurniawan dalam dialog dengan Andi Shalini di program Power Lunch, CNBC.