Penyerapan Rumah Subsidi Baru 161.746 Unit, Himperra Sebut Lebih Buruk dari Masa Pandemi
TEROPONGBISNIS.ID — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Himperra Ari Tri Priyono menyatakan penjualan rumah subsidi tahun ini jauh lebih buruk dibandingkan masa pandemi Covid-19. Hingga 29 September 2026, penyerapan KPR Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) baru mencapai 161.746 unit dari kuota 350 ribu unit yang disiapkan pemerintah. Kondisi ini memukul pengembang yang sebelumnya memperkirakan penyerapan bisa menembus 200 ribu unit hingga akhir tahun.
Himpunan Pengembang Permukiman dan Perumahan Rakyat (Himperra) menilai lesunya pasar rumah subsidi tahun ini berada di level yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ari Tri Priyono mengungkapkan bahwa para pengembang kini dilanda kebingungan karena pasar bergerak jauh di luar perkiraan awal.
"Ini kita pakai jawabannya orang lain saja. Kalau kata teman-teman yang lain ini lebih buruk dari Covid. Covid itu kita masih bisa tumbuh. Apalagi FLPP masih bisa tumbuh. Kalau ini benar-benar (sulit)," ujar Ari seperti diberitakan detikcom, Sabtu (3/10).
Daya Beli Jadi Akar Masalah, Bukan Pasokan
Ari menegaskan persoalan utama bukan terletak pada kemampuan pengembang membangun rumah. Menurutnya, pengembang sanggup membangun dalam jumlah berapa pun, tetapi jumlah pembeli yang datang sangat minim.
Lemahnya permintaan ini disebut sebagai pemicu utama ambruknya penyerapan rumah subsidi. Ari menyoroti perubahan orientasi generasi muda yang makin jarang menjadikan rumah sebagai prioritas, dan lebih memilih mengalokasikan dana untuk kebutuhan harian atau berlibur.
Faktor lain yang menahan laju penjualan adalah riwayat kredit macet akibat pinjaman online yang tercatat di Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) Otoritas Jasa Keuangan.
Relaksasi SLIK Belum Beri Efek Nyata
OJK sebenarnya telah memberikan relaksasi berupa pengecualian SLIK untuk tunggakan di bawah Rp 1 juta. Ari menilai kebijakan itu belum berdampak signifikan karena perbankan masih bersikap hati-hati dalam menyalurkan kredit.
"Walaupun ya kemarin kan OJK sudah memberikan semacam relaksasi dengan SLIK yang di bawah Rp 1 juta, itu tidak tampil. Cuma itu juga rasanya bank juga takut untuk melaksanakannya," beber Ari.
"Jadi bank sikapnya tetap sama walaupun dia tidak menentang (keputusan OJK) itu, tapi kita tidak melihat ada pergerakan signifikan dari sebelum ada kebijakan itu dengan setelahnya," ungkapnya.
Deretan Insentif Pemerintah Tak Cukup Mengangkat Minat MBR
Pemerintah telah menggelontorkan sejumlah insentif untuk mendongkrak sektor properti. Insentif itu mencakup pembebasan pajak hingga 100 persen untuk pembelian rumah sampai Rp 2 miliar yang diperpanjang hingga Desember 2027, KPR subsidi dengan bunga tetap 5 persen, uang muka dan tenor panjang hingga 40 tahun, serta penggratisan BPHTB dan PBG.
Meski begitu, rangkaian insentif tersebut belum mampu menaikkan minat Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) untuk membeli rumah. Penyerapan yang baru menyentuh 161.746 unit per 29 September 2026 mencerminkan jarak lebar dari target pemerintah.
Konsumen yang Sudah Beli pun Mulai Kewalahan Mengangsur
Tekanan tidak hanya datang dari sisi calon pembeli baru. Ari menyebut konsumen yang terlanjur mengambil KPR subsidi kini banyak yang mulai kewalahan membayar angsuran.
Sejumlah bank melaporkan maraknya kasus penghentian cicilan, pengalihan kredit, hingga penjualan rumah secara bawah tangan di tengah jalan. Alasannya beragam, mulai dari ketidakmampuan membayar angsuran hingga pilihan pulang kampung.
"Itu datanya juga banyak, baik yang (rumahnya) dijual sungguh-sungguh, jual bawah tangan, maupun jual dan kemudian dia beli yang lebih murah lagi. Ini berarti ada data bahwa masyarakat yang sudah beli pun merasa berat mengangsur. Pengangsurannya lebih kecil atau bahkan dia pindah ke kampung," pungkasnya.
Bagi pengembang, kombinasi permintaan yang lemah dan kualitas kredit yang memburuk menjadi sinyal bahwa insentif fiskal saja tidak cukup. Tanpa perbaikan daya beli dan pelonggaran penilaian risiko di perbankan, target penyerapan rumah subsidi hingga akhir tahun berpotensi makin sulit dikejar.