Breaking

100.000 Warga Swiss Keluar dari Gereja, Pajak 1-3 Persen Jadi Pemicu

SA
Minggu, 04 Oktober 2026
100.000 Warga Swiss Keluar dari Gereja, Pajak 1-3 Persen Jadi Pemicu
100.000 Warga Swiss Keluar dari Gereja, Pajak 1-3 Persen Jadi Pemicu

TEROPONGBISNIS.ID — Sebanyak 100.000 orang meninggalkan gereja di Swiss sepanjang 2023, dipicu kewajiban pajak gereja yang besarnya 1 hingga 3 persen dari penghasilan. Angka ini hampir dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya dan menunjukkan pergeseran besar dalam lanskap sosial-keagamaan negara tersebut.

Keputusan puluhan ribu warga Swiss untuk mundur dari keanggotaan gereja berdampak langsung pada kantong mereka. Di negara dengan beban pajak tinggi tersebut, warga yang tercatat sebagai anggota gereja resmi wajib menyetor pungutan tambahan setiap tahun.

Besaran pajak gereja berbeda-beda tergantung kanton atau provinsi tempat tinggal. Tarifnya berkisar antara 1 hingga 3 persen dari penghasilan, dan hanya dikenakan kepada warga yang terdaftar sebagai anggota gereja yang diakui negara.

Rincian Angka Kepergian Umat

Laporan media lokal Le News mencatat 67.497 orang meninggalkan Gereja Katolik di Swiss pada 2023. Jumlah itu hampir dua kali lipat dibanding 2022.

Untuk gereja Protestan, sekitar 39.517 orang secara resmi mengundurkan diri pada periode yang sama. Totalnya, sekitar 100.000 warga melepaskan status keanggotaan gereja mereka dalam satu tahun.

Data Institut Sosiologi Pastoral Swiss (SPI) menunjukkan provinsi Basel-Stadt mencatat persentase keluarnya umat tertinggi, yakni 4,5 persen. Provinsi di Swiss utara itu memiliki sistem "berhenti dari keanggotaan gereja" yang memungkinkan seseorang terbebas dari pajak gereja.

Bukan Sekadar Soal Uang

Meski data resmi tidak selalu menyebut alasan spesifik, statistik menunjukkan kanton yang menerapkan pajak gereja cenderung punya tingkat kepergian umat lebih tinggi. Laporan Religion Watch mengungkap pola tersebut.

Faktor lain turut berperan. Sekularisme yang menguat dan sejumlah skandal di lingkungan rumah ibadah menjadi pendorong tambahan bagi warga untuk meninggalkan gereja.

Survei dan data demografis memperlihatkan sekitar 34 persen populasi Swiss mengidentifikasi diri sebagai ateis pada 2022. Angka itu menandakan banyak orang benar-benar melepaskan diri dari agama, terlepas dari ada atau tidaknya kewajiban pajak.

Dampak ke Kas Gereja dan Layanan Publik

Pajak gereja di Swiss dipungut negara atas nama gereja yang diakui, lalu disalurkan untuk membiayai operasional rumah ibadah, kegiatan sosial, dan layanan komunitas. Berkurangnya jumlah pembayar berarti pendapatan gereja ikut tergerus.

Bagi warga yang memilih bertahan, beban pajak tidak berubah. Justru jika jumlah anggota terus menyusut, gereja berpotensi menaikkan tarif atau memangkas program layanan agar tetap berjalan.

Pemerintah kanton juga terdampak secara administratif. Sistem "berhenti dari keanggotaan gereja" yang memudahkan proses keluar membuat pencatatan status keagamaan warga semakin dinamis dari tahun ke tahun.

Tren ini memperlihatkan bahwa kebijakan fiskal yang melekat pada identitas keagamaan bisa menjadi pedang bermata dua. Bagi sebagian warga Swiss, menanggalkan status keanggotaan gereja adalah jalan paling praktis untuk meringankan beban pajak tahunan mereka.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua