Aspebindo Keluhkan Harga DMO Batu Bara ke Semen US$90/Ton, Biaya Logistik Membengkak
TEROPONGBISNIS.ID — Asosiasi Pemasok Energi, Mineral, dan Batubara Indonesia (Aspebindo) menilai patokan harga batu bara program domestic market obligation (DMO) untuk industri semen sebesar US$90 per ton sudah tidak relevan dengan kondisi lapangan. Ketentuan tarif itu memicu pembengkakan biaya logistik bagi pemasok, terutama saat pengiriman harus melalui rute pengalihan akibat sungai mengering. Kondisi ini menghambat pasokan batu bara ke industri semen.
Ketua DPP Aspebindo Hasstriansyah menyatakan harga DMO di angka US$90 per ton membuat para pemasok kesulitan memenuhi kewajiban pasokan. Pihaknya meminta pemerintah mempertimbangkan solusi yang mengakomodasi kepentingan semua pihak.
"Iya betul, harganya di angka US$90/ton, kami kesulitan untuk memenuhinya. Ada baiknya dipertimbangkan solusi yang baik demi kepentingan bersama," ujar Hasstriansyah saat dihubungi Bloomberg Technoz.
Pemicu Pembengkakan Biaya Logistik
Hasstriansyah menjelaskan lonjakan biaya logistik terjadi ketika pengiriman harus menempuh rute pengalihan. Penyebabnya, sungai-sungai yang biasa menjadi jalur angkut batu bara mengering akibat fenomena El Niño.
Kondisi itu membuat nilai keekonomian batu bara DMO tidak lagi sepadan dengan ongkos yang dikeluarkan pemasok. Selisih antara harga jual yang dipatok dan biaya angkut riil kian melebar.
Posisi Pemasok Makin Terjepit
Hasstriansyah mengonfirmasi para pemasok kini berada dalam posisi yang makin sulit untuk memenuhi kuota DMO pada tingkat harga tersebut. Kewajiban pasokan tetap berjalan, sementara struktur biaya di lapangan berubah drastis.
Aspebindo menilai patokan harga yang berlaku saat ini tidak lagi mencerminkan realitas operasional di lapangan. Pemasok berharap ada penyesuaian agar pasokan batu bara ke industri semen tidak terganggu.
Apa Artinya bagi Industri Semen
Industri semen merupakan salah satu pengguna batu bara domestik yang bergantung pada pasokan stabil untuk operasional pabrik. Gangguan pasokan berpotensi menekan produksi dan menaikkan biaya input.
Jika hambatan logistik berlanjut tanpa penyesuaian harga, risiko kelangkaan pasokan di sektor semen bisa meningkat. Pemerintah belum memberikan respons resmi atas keluhan Aspebindo ini.