Breaking

Kerajaan Bisnis Salim Group Runtuh dalam Hitungan Hari pada Mei 1998

KE
Sabtu, 03 Oktober 2026
Kerajaan Bisnis Salim Group Runtuh dalam Hitungan Hari pada Mei 1998
Kerajaan Bisnis Salim Group Runtuh dalam Hitungan Hari pada Mei 1998

TEROPONGBISNIS.ID — Kerajaan bisnis Sudono Salim yang dibangun selama tiga dekade lebih ambruk hanya dalam beberapa hari pada Mei 1998. Sentimen anti-Soeharto yang meledak menjadi kerusuhan rasial membuat aset-aset Salim Group—dari BCA hingga Indocement—menjadi sasaran amukan massa.

Sudono Salim alias Liem Sioe Liong pernah menjadi simbol kekuatan bisnis terbesar di Indonesia. Pria kelahiran Fujian itu membangun imperium usaha yang bertumpu pada tiga pilar: perbankan melalui Bank Central Asia (BCA), semen lewat Indocement, serta makanan melalui Bogasari dan Indofood.

Kejayaan Salim tidak lepas dari kedekatannya dengan Presiden Soeharto. Relasi keduanya terjalin jauh sebelum Soeharto berkuasa, bermula saat Salim memasok logistik untuk pasukan yang dipimpin Kolonel Soeharto selama Perang Kemerdekaan 1945-1949.

Pertemuan itu difasilitasi Sulardi, sepupu Soeharto, yang menjadi perantara. Sejak itu, jaringan bisnis Salim dan karier militer Soeharto berjalan seiring.

Relasi Saling Menguntungkan Selama Tiga Dekade

Richard Borsuk dan Nancy Chng dalam Liem Sioe Liong dan Salim Group (2016) mencatat bahwa setelah Soeharto meraih kekuasaan pada pertengahan 1960-an, ia didukung kelompok kroni pengusaha dengan Liem sebagai yang terbesar dan terkuat.

Keduanya terlibat dalam hubungan timbal balik selama tiga dekade. Soeharto melindungi Liem dan memastikan bisnisnya lancar. Sebaliknya, Salim Group menyalurkan dana kepada Soeharto, keluarga, dan kroni lainnya.

Hasilnya, Salim terdaftar sebagai orang terkaya di Indonesia. Soeharto pun kokoh memegang kekuasaan. Namun, fondasi kejayaan itu ternyata rapuh.

BCA Jadi Titik Paling Fatal

Krisis moneter 1997-1998 menghantam Indonesia dengan keras. Sektor perbankan menjadi yang paling parah terkena imbasnya, dan BCA berada di pusat badai.

Sejarawan M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern (2009) menggambarkan nasabah menarik dana secara massal dan besar-besaran. Ratusan orang rela antre berjam-jam untuk menguras seluruh tabungan mereka.

BCA yang kehilangan kepercayaan masyarakat terancam bangkrut. Rangkaian krisis ini mencapai puncaknya pada Mei 1998.

Kerusuhan 13-14 Mei dan Amukan Massa

Kedekatan dengan Soeharto berubah menjadi malapetaka bagi Salim. Sentimen anti-Soeharto yang meluas akibat krisis ekonomi dan kemelut politik menjadikan Salim target utama.

Unjuk rasa beralih menjadi kerusuhan rasial pada 13 Mei 1998. Jakarta dan sekitarnya dilanda penjarahan serta pembakaran terhadap rumah, bangunan pertokoan, dan kendaraan.

Massa menyasar bangunan dan kendaraan milik orang Tionghoa. Jemma Purdey dalam Kekerasan Anti-Tionghoa di Indonesia 1996-1999 (2013) menjelaskan stereotip bahwa orang Tionghoa patut dibenci karena kaya dan dekat dengan penguasa menjadi pemicu.

Tokoh sentral yang melekat dengan deskripsi itu adalah Sudono Salim. Ricklefs menulis bahwa perusahaan para cukong dan keluarga Soeharto menjadi sasaran utama pembakaran dan penjarahan, dengan BCA sebagai objek serangan utama.

Rumah Salim Dibakar Massa

Saat kerusuhan memuncak, Sudono Salim, istri, dan beberapa anaknya sedang berada di Amerika Serikat. Salim tengah bersiap menjalani operasi mata.

Di Jakarta, hanya ada Anthony Salim yang bekerja di Wisma Indocement, Jalan Sudirman. Anthony tidak berani pulang ke rumah ayahnya di kawasan Roxy karena kerusuhan menyasar permukiman warga Tionghoa.

Pagi 14 Mei, Anthony menerima kabar bahwa rumah ayahnya didatangi sekelompok pemuda bersenjatakan jerigen bahan bakar dan perkakas. Mereka ingin masuk ke rumah mewah Liem.

Anthony memerintahkan satpam mempersilakan massa masuk merusak rumah ketimbang dihadang dan menimbulkan pertumpahan darah. "Dalam sekejap, seluruh mobil di garasi terbakar, termasuk juga seisi rumah," tutur Anthony kepada Borsuk dan Chng.

Massa membakar furnitur, mencopot lukisan, dan mengobrak-abrik kamar. Asap hitam membumbung tinggi dari kediaman Salim. Di jalanan, foto Salim dilempari batu dan dibakar.

Warisan yang Kini Bangkit Kembali

Kerajaan bisnis Salim Group memang porak-poranda pasca-1998. BCA diambil alih pemerintah melalui Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) dan kemudian dijual ke Grup Djarum.

Namun, Salim Group tidak hilang sepenuhnya. Anthony Salim berhasil merestrukturisasi sisa-sisa bisnis keluarga dan membangun kembali imperium usaha melalui Indofood, Indocement, dan berbagai investasi baru di sektor konsumer, properti, dan infrastruktur.

Kisah robohnya kerajaan Salim menjadi pelajaran tentang risiko politik bagi konglomerasi. Kedekatan dengan kekuasaan bisa menjadi akselerator pertumbuhan, tetapi juga menjadi bumerang ketika rezim itu tumbang.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua