KB Bank (BBKP) Genjot Kredit Wholesale ke Rp30,28 Triliun, Incar Rantai Pasok Korporasi
TEROPONGBISNIS.ID — PT Bank KB Indonesia Tbk (BBKP) mencatat kredit wholesale banking tumbuh 2,85% menjadi Rp30,28 triliun per Juni 2026, dari Rp29,45 triliun pada Desember 2025. Pertumbuhan itu ditopang strategi berbasis ekosistem yang menjadikan nasabah korporasi sebagai jangkar untuk menembus rantai pasok hingga segmen menengah dan SME.
Direktur Wholesale Banking KB Bank Widodo Suryadi menyatakan perseroan mengembangkan pendekatan ecosystem based dengan menempatkan nasabah korporasi sebagai anchor. Dari titik itu, bank mengikuti aliran transaksi dan kebutuhan pembiayaan sepanjang rantai pasok.
“Jadi kita ini akan memakai nasabah-nasabah corporate itu sebagai anchor, sebagai jangkarnya, kemudian yang di mana kita akan lihat dari supply chain, yang istilahnya itu follow the money,” ujar Widodo dalam KB Bank Media Workshop di Jakarta, Kamis (24/9/2026).
Strategi tersebut menjadi arah baru wholesale banking KB Bank yang bertumpu pada tiga prinsip: ecosystem based, transaction led, serta quality before volume.
Kredit Normal Wholesale Naik 2,23%
Kredit normal wholesale banking atau kredit dengan kolektibilitas 1 meningkat 2,23% menjadi Rp22,77 triliun dari Rp22,27 triliun pada periode yang sama. Angka itu menunjukkan porsi terbesar kredit wholesale BBKP masih berada di kategori lancar.
Widodo menegaskan prinsip kualitas menjadi krusial karena KB Bank sebelumnya menghadapi tantangan kredit bermasalah. Ekspansi ke depan akan tetap mengutamakan kualitas aset dan prinsip kehati-hatian.
“Kalau kami mau scale up, itu harus kami beresin dulu quality-nya. Makanya dengan beberapa fasilitas-fasilitas kredit baru, itu kami selalu memegang teguh prinsip kehati-hatian,” ucapnya.
Dengan pendekatan itu, KB Bank tidak ingin sekadar membiayai satu perusahaan secara individual. Penetrasi ke pelaku usaha lebih kecil dilakukan berdasarkan keterkaitan mereka dalam ekosistem bisnis nasabah korporasi.
“Kalaupun kita masuk ke sampai ke toko-toko, itu pun juga berdasarkan ekosistem, jadi bukan hanya cuma sekedar ‘Oh si toko A ini oke kita kasih’, tidak. Jadi kita masuk berdasarkan ekosistem itu,” kata Widodo.
Transaction Banking Jadi Operating Engine
Transaction Division Head KB Bank Novita S Djani menyebut transaction banking berperan menghubungkan kebutuhan nasabah dari perusahaan besar hingga segmen commercial dan enterprise banking. Layanan itu mencakup pengelolaan penerimaan dan pembayaran, arus kas, penggajian, hingga hubungan dengan pemasok, distributor, dan vendor.
“Bagaimana caranya untuk kita itu menghubungkan, connecting the dots, dari kebutuhan-kebutuhan nasabah-nasabah kita mulai dari nasabah yang paling atas, large corporate, menuju commercial, hingga ke enterprise banking, gitu. Disitulah tugasnya transaction banking,” ujar Novita.
Semakin dalam bank memahami arus transaksi nasabah, semakin besar peluang memberikan solusi keuangan yang sesuai, termasuk pembiayaan. Dari sisi bank, layanan ini turut mendorong pendapatan berbasis komisi (fee based income), pertumbuhan dana murah atau CASA, serta customer insights yang lebih baik.
One KB Solutions dan Platform KBstarbiz
KB Bank mengintegrasikan berbagai kebutuhan nasabah melalui One KB Solutions, mulai dari cash management, trade finance, supplier financing, treasury dan foreign exchange (FX), hingga layanan investasi dan program employee benefit.
Seluruh layanan itu dirangkum dalam satu platform digital wholesale banking bernama KBstarbiz. “Single digital platform bisa menghubungkan seluruh service yang ada di sini, dan dapat menghasilkan satu customer experience,” kata Novita.
Dengan integrasi tersebut, KB Bank ingin membangun hubungan yang lebih panjang dengan nasabah, tidak berhenti pada satu transaksi pembiayaan. Bagi pelaku usaha di rantai pasok korporasi, pendekatan ini membuka akses pembiayaan yang sebelumnya sulit dijangkau secara individual.
Bagi investor, pertumbuhan kredit wholesale yang moderat namun disertai penekanan pada kualitas aset menjadi sinyal arah bisnis BBKP ke depan. Perbaikan kualitas kredit menjadi prasyarat sebelum perseroan memperbesar skala ekspansi.