Breaking

Guru Besar Universitas Pertamina: B50 dan EV Bisa Jalan Bersama, Tak Perlu 100 Persen Listrik

KI
Rabu, 30 September 2026
Guru Besar Universitas Pertamina: B50 dan EV Bisa Jalan Bersama, Tak Perlu 100 Persen Listrik
Guru Besar Universitas Pertamina: B50 dan EV Bisa Jalan Bersama, Tak Perlu 100 Persen Listrik

TEROPONGBISNIS.ID — Guru Besar Universitas Pertamina Iman Kartolaksono Reksowardojo menilai biodiesel B50 dan kendaraan listrik bisa berjalan berdampingan tanpa harus saling dibenturkan. Menurut dia, Indonesia tak perlu memaksakan target 100 persen EV karena infrastruktur pengisian daya belum merata di seluruh daerah. Pendekatan multipathway dinilai lebih realistis untuk negara seluas Indonesia.

Pandangan itu disampaikan Iman dalam forum Evolution Forum bertema "Powering Indonesia Future: Green Cars, Blue Skies" di Jakarta, Rabu (30/9). Ia menyoroti kebijakan biodiesel 50 persen sebagai alternatif energi yang sudah terbukti menekan emisi kendaraan, di samping pengembangan kendaraan listrik.

Menurut Iman, pengembangan energi dalam negeri harus dilakukan dengan bijak. Indonesia memiliki wilayah sangat luas dan belum semua daerah punya infrastruktur pendukung kendaraan listrik.

"Indonesia itu sangat besar ya dan Indonesia itu bukan Jakarta, bukan Surabaya, bukan Medan, jadi memang enggak mudah begitu ya. Dan Indonesia sekarang sedang penuh tantangan, enggak cuma EV," kata Iman.

B50 Dinilai Sudah Terbukti, Bukan Sekadar Wacana

Iman menegaskan Indonesia tak perlu mengikuti tekanan global untuk sepenuhnya beralih ke elektrifikasi. Alasannya, sudah ada sumber energi alternatif yang berjalan di dalam negeri dan diakui dunia, yakni B50.

"Kita harus bangga karena kita nomor satu di dunia, pelopor untuk industrinya, penelitiannya, dan aplikasinya. Karena di dunia itu, paling di Eropa, di Amerika itu 7 persen mandatorinya, Indonesia, jangan salah, 50," ucapnya.

Penerapan B50, lanjut dia, sudah terasa manfaatnya dari sisi anggaran maupun sektor pertanian. Kebijakan ini dinilai mampu mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil sekaligus menyerap produksi sawit dalam negeri.

Jangan Dibenturkan, Masing-Masing Punya Keuntungan

Iman meminta pemerintah tidak memposisikan kendaraan listrik dan biofuel sebagai dua pilihan yang saling bertentangan. Keduanya, kata dia, sama-sama punya keunggulan dan bisa dijalankan berbarengan.

"Kita harus bijak, jangan dibenturkan harus EV, harus biofuel. Sama-sama harus jalan karena masing-masing punya keuntungan," jelasnya.

Meski begitu, pengembangan kendaraan listrik tetap dinilai penting. Indonesia merupakan penghasil nikel, sehingga pengolahan sumber daya alam itu mesti dimanfaatkan untuk mendukung industri baterai dan ekosistem EV.

Multipathway Jadi Kata Kunci Kebijakan Energi

Alih-alih menetapkan target tunggal 100 persen EV, Iman mendorong pendekatan multipathway. Artinya, berbagai teknologi dibiarkan berkembang sesuai kebutuhan dan kesiapan wilayah masing-masing.

"Jadi bukan 100 persen EV, tapi multipathway, bahasa kerennya. Masih ada yang pake ICE, yang efisien, kemudian ada hybrid, ada EV, ada biofuel, atau kombinasi itu," ujarnya.

Pendekatan itu mencakup mesin pembakaran internal yang efisien, kendaraan hybrid, mobil listrik berbasis baterai, hingga bahan bakar nabati. Kombinasi antarteknologi dinilai lebih masuk akal untuk menjangkau daerah yang belum tersentuh jaringan pengisian daya.

Bagi konsumen, arah kebijakan ini berarti pilihan kendaraan rendah emisi tidak tunggal. Pengguna di kota besar bisa beralih ke EV, sementara wilayah lain tetap mengandalkan kendaraan berbahan bakar nabati tanpa kehilangan manfaat pengurangan emisi.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua