7 Kelemahan Membeli iPhone yang Jarang Dibahas Pengguna
TEROPONGBISNIS.ID — Apple menguasai 54 persen pasar smartphone Amerika Serikat dengan 150,7 juta pengguna iPhone, tetapi dominasi itu menyimpan sejumlah kelemahan yang jarang disorot. Harga yang menembus USD 1.999, keterbatasan kustomisasi, hingga tekanan untuk masuk ke ekosistem Apple menjadi pertimbangan serius bagi calon pembeli. Berikut tujuh kekurangan iPhone yang perlu diketahui sebelum memutuskan membeli.
Apple memang bukan pemain kecil di pasar smartphone global. Pangsa pasar perusahaan ini mencapai 18,7 persen secara global, dan angka itu melonjak menjadi 54 persen di Amerika Serikat. Dengan 150,7 juta pengguna iPhone di Negeri Paman Sam saja, wajar jika banyak orang langsung mempertimbangkan iPhone saat mencari ponsel baru.
Model iPhone 17 tercatat sebagai varian terpopuler sejauh ini. Antarmuka yang mulus, fitur premium, dan kualitas kamera yang mumpuni membuat banyak konsumen memilih iPhone dibanding perangkat Android.
Namun, anggapan bahwa iPhone bebas dari kekurangan adalah keliru. Ada sejumlah alasan mengapa sebagian orang justru memilih menjauh dari perangkat Apple dan tetap setia pada platform lain.
Harga yang Terus Naik dan Tak Lagi Ramah Kantong
Ini keluhan paling sering muncul setiap kali iPhone baru diluncurkan. iPhone 18 Pro dan iPhone 18 Pro Max baru-baru ini diumumkan dengan harga masing-masing USD 1.199 dan USD 1.299. Bandingkan dengan iPhone Duo yang dibanderol USD 1.999.
Yang menarik, publik seolah sudah terbiasa dengan harga iPhone yang menembus USD 1.000. Kejutan harga baru muncul ketika angka menyentuh USD 1.999. Sementara iPhone 18 versi dasar belum diumumkan, harganya diprediksi melampaui iPhone 17 yang dijual USD 899.
Sebagai perbandingan, sejumlah ponsel Android kelas bawah bisa dibeli dengan harga sekitar USD 200. Komitmen Apple pada kualitas perangkat keras dan lunak memang berbayar, tetapi selisih harganya mencapai USD 500 atau setara dua ponsel Android murah.
Belum lagi isi kotak penjualan. iPhone hanya menyertakan kabel pengisian daya tanpa adaptor. Pembeli harus merogoh kocek lagi untuk membeli adaptor secara terpisah, yang menambah total biaya kepemilikan.
Kustomisasi Terbatas Dibanding Android
Menyebut iPhone sama sekali tidak bisa dikustomisasi tentu berlebihan. Apple telah menambah berbagai opsi untuk mengubah tampilan layar utama dan layar kunci melalui iOS 27. Pengguna bisa menambahkan widget, fitur yang baru hadir di iOS 14 jauh setelah Android lebih dulu menyediakannya.
Ukuran ikon aplikasi juga bisa diperbesar atau diperkecil. Warna ikon dapat disesuaikan menjadi terang, gelap, bening, atau berwarna. Pusat Kontrol pun dapat diatur sesuai keinginan. Namun, semua ini bukan hal baru bagi pengguna Android.
Perbandingan dengan Android justru memperjelas keterbatasan iPhone. Ikon aplikasi di Android bisa dikustomisasi sepenuhnya. Google Pixel, misalnya, menawarkan opsi membuat ikon khusus untuk semua aplikasi setelah pengguna memilih tema.
Pengguna Android bahkan bisa mengganti launcher untuk mengubah tampilan perangkat secara menyeluruh, dari gaya minimalis hingga tema bergaya tinggi. Niagara Launcher, Nova Launcher, dan Apex Launcher adalah sebagian kecil dari banyak pilihan yang tersedia.
Bagi yang menginginkan kustomisasi lebih ekstrem, ponsel Android memungkinkan pemasangan ROM yang menginstal sistem operasi berbeda. GrapheneOS dan LineageOS menjadi pilihan populer untuk menghindari pengawasan korporasi besar dan memangkas gangguan dari ponsel. Dengan iPhone, pengguna terbatas pada apa yang diizinkan Apple.
Tekanan Masuk ke Ekosistem Apple
Produk Apple tidak berhenti di iPhone. Ada MacBook, Apple Watch, AirPods, dan iPad yang semuanya dirancang saling terhubung. Membeli semuanya tentu tidak wajib, tetapi Apple sengaja membuat perangkat-perangkatnya sangat kompatibel satu sama lain.
Perangkat wearable bisa tersinkronisasi dengan ponsel untuk menyajikan berbagai metrik. Memindahkan dokumen dari iPhone ke iPad atau MacBook cukup lewat AirDrop. Universal Clipboard menawarkan kemudahan yang sulit ditandingi. AirPods pun hanya terasa optimal jika terhubung ke perangkat Apple.
Alasan inilah yang membuat banyak profesional bergantung pada iPhone dan MacBook untuk menyelesaikan pekerjaan. Bahkan pengguna setia Windows dan Android pun akan terdorong beralih ke Apple pada salah satu perangkat, yang kemudian memaksa mereka membeli perangkat lainnya.
Dalam jangka panjang, masuk ke ekosistem Apple bisa menjadi pengeluaran besar. Setiap perangkat baru yang dibeli akan terus menarik pengguna semakin dalam ke ekosistem yang saling terikat, menciptakan ketergantungan yang sulit dilepaskan.