Breaking

Prospek Saham Nikel 2026-2027, Cermati INCO hingga ANTM

IB
Ibtihal

Editor: Septian Akbar Gumilang

Rabu, 23 September 2026
Prospek Saham Nikel 2026-2027, Cermati INCO hingga ANTM
Ilustrasi emiten nikel masih menghadapi tekanan dari stagnasi harga komoditas, ketidakpastian RKAB, dan perubahan regulasi HPM nikel (sumber foto: NET)

JAKARTA - Kinerja saham emiten komoditas nikel masih berada di bawah tekanan sepanjang tahun 2026.

Hingga Selasa (22/9/2026), sejumlah saham emiten nikel tercatat melemah cukup dalam di tengah stagnasi harga nikel, ketidakpastian persetujuan perubahan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB), serta perubahan regulasi terkait Harga Patokan Mineral (HPM) nikel.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas atau IPOT David Kurniawan mengatakan, tekanan saham nikel tahun ini terutama berasal dari kombinasi sentimen pasokan dan regulasi. Kondisi oversupply menjadi salah satu faktor fundamental yang membuat harga nikel global masih bergerak stagnan.

"Stagnasi harga nikel global akibat ketidakseimbangan pasokan (oversupply) menjadi faktor fundamental utama," sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di sisi domestik, ketidakpastian proses persetujuan RKAB turut membatasi fleksibilitas operasional emiten. Sementara itu, perubahan regulasi HPM membuat pelaku pasar masih bersikap wait and see terhadap kepastian margin emiten nikel.

Tekanan tersebut tercermin dari pergerakan sejumlah saham. Hingga penutupan perdagangan Selasa (22/9/2026), saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) turun 9,57% secara year to date (YtD), PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) melemah 18,67%, PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) turun 11,3%, PT Central Omega Resources Tbk (DKFT) terkoreksi 8,97%, dan PT PAM Mineral Tbk (NICL) ambles 64,61%. Sementara itu, hanya PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang tercatat naik tipis 0,63% YtD.

Menurut David, kinerja emiten nikel hingga akhir 2026 masih berpotensi bergerak konsolidatif. Kondisi tersebut sejalan dengan proses penyesuaian operasional emiten terhadap regulasi baru dan pergerakan harga komoditas yang belum banyak berubah.

Memasuki 2027, prospek sektor nikel berpotensi membaik secara bertahap. Namun, perbaikan tersebut bergantung pada kelancaran proses perizinan RKAB serta kemampuan emiten untuk meningkatkan efisiensi biaya.

"Untuk tahun 2027, prospek berpotensi membaik secara bertahap, terutama jika kelancaran proses perizinan RKAB tercapai dan efisiensi biaya emiten mulai membuahkan hasil," sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Lebih lanjut, terdapat sejumlah katalis yang dapat mendorong pemulihan kinerja maupun harga saham emiten nikel. Kepastian dan kelancaran regulasi RKAB serta kejelasan formula HPM menjadi faktor penting yang akan dicermati pasar.

Selain itu, pemulihan permintaan nikel global, terutama dari sektor baterai kendaraan listrik dan industri baja nirkarat, juga dapat menjadi katalis. Stabilnya harga nikel atau berlanjutnya kenaikan harga di bursa komoditas global turut berpotensi mendukung sentimen terhadap sektor ini.

Dari sisi fundamental, David mengatakan, emiten nikel yang memiliki integrasi bisnis kuat serta biaya produksi rendah masih memiliki ketahanan yang relatif baik dalam menghadapi fluktuasi harga komoditas.

"Emiten terintegrasi seperti ANTM dan INCO cenderung memiliki ketahanan lebih baik dalam menghadapi fluktuasi harga komoditas karena dukungan diversifikasi portofolio dan struktur modal yang sehat," sebagaimana dilansir dari berita sumber.

David mengatakan, sektor nikel masih memiliki daya tarik dalam jangka panjang seiring dengan agenda transisi energi global. Namun, untuk jangka pendek, investor perlu lebih selektif dalam memilih saham di sektor tersebut.

Ia menyarankan pendekatan Selective Buy atau Hold pada emiten dengan fundamental kuat dan biaya produksi yang efisien. Perkembangan regulasi domestik serta arah harga nikel dunia juga menjadi faktor yang perlu dicermati investor.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua