Breaking

Rupiah Berakhir di Rp17.685 Per Dolar AS Saat Harga Minyak Melemah

AK
Akbar

Editor: Septian Akbar Gumilang

Sabtu, 29 Agustus 2026
Rupiah Berakhir di Rp17.685 Per Dolar AS Saat Harga Minyak Melemah
Ilustrasi kurs rupiah (FOTO : NET)

JAKARTA – Kurs Rupiah menguat 30 poin ke Rp17.685 per Dolar AS pada perdagangan Jumat. Meski begitu, mata uang Garuda bergerak datar secara mingguan.

Penurunan harga minyak dunia dan membaiknya sentimen terhadap aset domestik menjadi penopang utama Rupiah. Di sisi lain, perhatian fokus pasar saat ini tertuju pada pidato Ketua The Fed Kevin Warsh di simposium Jackson Hole malam ini.

Mata uang Rupiah Indonesia (IDR) kembali mencatatkan penguatan terhadap Dolar AS (USD) pada penutupan perdagangan Jumat di level Rp17.685. Pasangan mata uang USD/IDR tercatat turun 30 poin dibandingkan penutupan hari Kamis di level Rp17.715, sedangkan kurs referensi JISDOR Bank Indonesia (BI) menguat ke Rp17.703 dari posisi sebelumnya Rp17.762.

Mata uang domestik memperoleh sokongan dari melandainya harga minyak dan menguatnya sentimen investor terhadap aset Indonesia. Namun, pergerakan Dolar AS yang masih bertahan di dekat level tertinggi mingguan membatasi ruang kenaikan lebih lanjut.

Melalui posisi penutupan tersebut, Rupiah kembali pada level penutupan hari Jumat pekan lalu. Hal ini membuat pergerakannya secara mingguan relatif bergerak datar.

DBS Group Research menilai sentimen terhadap pasar di Indonesia berubah menjadi lebih konstruktif sepanjang Agustus, seiring meredanya kekhawatiran atas ketidakpastian kebijakan serta stabilitas mata uang. Ekonom DBS Radhika Rao menyoroti proses uji kelayakan calon Gubernur BI Destry Damayanti yang menekankan optimalisasi instrumen moneter, makroprudensial, sistem pembayaran, dan koordinasi bersama pemerintah.

Selanjutnya, Komisi XI DPR RI pada hari Kamis resmi menyetujui dan menetapkan Destry sebagai calon Gubernur BI periode 2026–2031 untuk dibawa ke Rapat Paripurna DPR.

“Ini menandakan pergeseran fokus bank sentral dari semata-mata kenaikan suku bunga ke langkah-langkah non-suku bunga untuk mendukung Rupiah,” kata Rao sebagaimana dilansir dari berita sumber.

DBS mencatat investor asing telah membukukan arus masuk mendekati US$1 miliar ke instrumen surat utang Rupiah sepanjang bulan Agustus. Sementara itu, pasangan USD/IDR bergerak melandai dari level tertinggi Juli di kisaran 17.700–17.900.

Penurunan harga minyak mentah pada perdagangan Jumat turut menjadi salah satu pendorong penguatan Rupiah. Minyak jenis Brent melamahi 0,67% ke posisi US$89,10 per barel dan WTI terkoreksi 0,77% ke level US$82,89, di mana secara mingguan keduanya merosot masing-masing sekitar 5,3% dan 4,3%.

Pelemahan harga minyak terjadi setelah volume ekspor minyak dari kawasan Teluk menunjukkan perbaikan, kendati tensi ketegangan terkait Iran belum mereda. Goldman Sachs memprakirakan total ekspor minyak dari negara-negara Teluk pulih ke kisaran 15–16 juta barel per hari, naik 5–6 juta barel per hari dari posisi terendah pada Maret, walaupun masih 7–8 juta barel di bawah angka sebelum konflik.

Kendati demikian, tekanan dari pasar global masih belum sepenuhnya hilang. Indeks Dolar AS (DXY) bertahan di atas level 99, mendekati posisi puncak mingguan dan berpotensi mencetak kenaikan 0,3% sepanjang pekan ini.

Imbal hasil obligasi Pemerintah AS tenor 10 tahun juga berada di kisaran 4,68%, karena pelaku pasar cenderung menghindari pengambilan posisi besar menjelang pidato Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh di Jackson Hole. Tingginya posisi Dolar dan imbal hasil AS tersebut membatasi ruang apresiasi bagi mata uang Asia, termasuk Rupiah.

Perhatian utama pasar saat ini mengarah pada pidato Kevin Warsh di simposium Jackson Hole pada pukul 21.00 WIB malam ini. Momen tersebut menjadi penampilan perdana utamanya di forum itu dalam kapasitasnya sebagai Ketua The Fed.

Investor sedang berupaya mencari kejelasan mengenai langkah bank sentral merespons inflasi yang bertahan tinggi serta arah suku bunga, mengingat Warsh selama ini memberikan panduan kebijakan yang cukup terbatas. Data CME FedWatch Tool menunjukkan probabilitas sekitar 34%, sementara peluang setidaknya satu kali kenaikan suku bunga hingga akhir tahun menyentuh angka 74%.

Sikap yang lebih tegas terhadap inflasi berpeluang kembali menopang pergerakan Dolar AS serta imbal hasil Treasury. Sebaliknya, pesan yang lebih berhati-hati berpotensi meredakan tekanan terhadap Rupiah saat pasar dibuka kembali pekan depan.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua