IHSG Berpotensi Lanjutkan Penguatan di Tengah Sentimen Global
JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan meneruskan penguatan walaupun dalam rentang terbatas pada transaksi Rabu (17/6/2026).
IHSG ditutup melonjak 4,12% menuju posisi 6.254,97 pada transaksi Senin (15/6/2026), ditopang oleh membaiknya sentimen global setelah beredarnya kabar mengenai rencana kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran serta penurunan harga minyak dunia.
Tim riset Phintraco Sekuritas menilai bahwa dari sudut pandang teknikal, proyeksi IHSG dalam jangka pendek masih terhitung positif.
Indeks berhasil ditutup di atas rata-rata pergerakan yang memberikan sinyal adanya peralihan tren menuju fase yang lebih konstruktif.
Di samping itu, indikator MACD tetap menunjukkan histogram positif yang merangkak naik, mengindikasikan bahwa momentum penguatan belum sepenuhnya berakhir. Meski begitu, para pemodal tetap harus waspada terhadap risiko aksi ambil untung.
"IHSG berpotensi bergerak dalam rentang 6.150 hingga 6.400 pada perdagangan berikutnya," tulis tim riset yang dikutip, Selasa (16/6/2026).
Laju penguatan IHSG pada penutupan transaksi sebelumnya menjadi salah satu lonjakan harian paling signifikan dalam beberapa waktu terakhir, bahkan sempat menyentuh posisi 6.345 di tengah-tengah sesi perdagangan seiring meningkatnya optimisme pasar atas meredanya perselisihan geopolitik di Timur Tengah.
Faktor pendorong utama berasal dari rencana penandatanganan kesepakatan damai AS–Iran di Swiss pada Jumat (19/6), yang mendongkrak ekspektasi terciptanya stabilitas di kawasan serta peluang normalisasi rute pelayaran strategis di Selat Hormuz. Stimulus tersebut ikut memicu penguatan bursa saham global, tidak terkecuali Indonesia.
Dilihat dari sektor komoditas, harga minyak mentah dunia merosot cukup dalam. West Texas Intermediate (WTI) menyusut lebih dari 4% ke kisaran US$80 per barel, sementara Brent melemah ke rentang US$83 per barel. Penurunan ini meredakan kekhawatiran seputar hambatan pasokan energi global.
Bagi Indonesia yang posisinya masih bertumpu pada impor energi, merosotnya harga minyak dipandang bernilai positif lantaran berpeluang menekan laju inflasi, mengikis tekanan pada mata uang rupiah, sekaligus meminimalkan risiko melebarnya defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Hembusan sentimen positif juga tampak di pasar valuta asing, di mana rupiah menguat 0,85% ke posisi Rp17.709 per dolar AS pada Senin (15/6), selaras dengan naiknya gairah investor terhadap aset berisiko di pasar domestik.
Di Bursa Efek Indonesia, sektor bahan baku (basic materials) tampil sebagai motor penggerak utama penguatan lewat lonjakan sebesar 7,26%, dipicu oleh optimisme atas pemulihan roda ekonomi dunia serta ekspektasi bergairahnya kembali aktivitas industri.
Kenaikan serupa melanda saham-saham siklikal yang sensitif terhadap dinamika ekonomi global, seiring harapan meredanya tensi geopolitik yang diyakini dapat kembali melancarkan jalur niaga internasional.