Jakarta - Cara mencegah glaukoma penting untuk dipahami karena kondisi ini merupakan gangguan penglihatan akibat kerusakan saraf optik yang dapat menyebabkan penyempitan lapang pandang hingga hilangnya fungsi penglihatan secara permanen.
Berdasarkan data terbaru hingga 2026 dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan World Health Organization, glaukoma masih menjadi salah satu penyebab utama kebutaan di dunia setelah katarak, dengan angka prevalensi yang terus meningkat secara global.
Di Indonesia sendiri, kasusnya juga menunjukkan tren kenaikan setiap tahun.
Banyak penderita baru menyadari kondisi ini ketika sudah memasuki tahap lanjut, bahkan saat fungsi penglihatan telah menurun signifikan.
Karena itu, memahami cara mencegah glaukoma sejak dini menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan mata dan mencegah risiko kebutaan.
Pentingnya mengetahui Faktor Risiko serta Gejala GLAUKOMA
Menurut American Optometric Association, penyebab pasti kondisi ini belum dapat dipastikan, sementara tanda-tandanya bisa berbeda pada setiap jenisnya. Pada dasarnya, siapa pun memiliki kemungkinan mengalami gangguan ini, tetapi ada beberapa kelompok yang dinilai memiliki tingkat risiko lebih tinggi, antara lain:
- Memiliki anggota keluarga dengan riwayat penyakit serupa.
- Berasal dari kelompok etnis tertentu, seperti Afrika dan Asia, yang dalam sejumlah studi menunjukkan kecenderungan lebih besar terhadap tipe sudut tertutup dibanding kelompok lainnya.
- Menggunakan obat berbahan kortikosteroid dalam jangka panjang, seperti kortison, hidrokortison, atau prednison, yang dapat memicu munculnya kondisi sekunder.
- Berusia di atas 60 tahun, karena kemungkinan terjadinya gangguan ini meningkat seiring pertambahan usia.
- Mengidap penyakit kronis tertentu, misalnya diabetes, hipertensi, atau gangguan jantung, yang berdasarkan penelitian berkaitan dengan peningkatan risiko.
Adapun tanda-tanda yang sering muncul meliputi:
a. Penglihatan tampak berkabut atau tidak jelas
b. Pandangan tiba-tiba menjadi buram
c. Disertai rasa mual atau muntah
d. Nyeri kepala yang terasa hingga area sekitar mata
e. Melihat lingkaran seperti pelangi atau bayangan gelap di sekitar cahaya
f. Mata menjadi lebih sensitif terhadap cahaya
Menjaga Tekanan Bola Mata, Sebagai Upaya Cara Mencegah Glaukoma
Tekanan pada bola mata yang meningkat, atau dalam istilah medis disebut hipertensi okular, termasuk salah satu faktor utama yang dapat memicu gangguan pada saraf optik.
Secara umum, tekanan bola mata normal berada di kisaran 10–20 mmHg. Seseorang dengan tekanan yang lebih tinggi belum tentu langsung mengalami gangguan serius, dan sering kali tidak merasakan tanda-tanda tertentu.
Namun demikian, kemungkinan terjadinya masalah pada penglihatan tetap lebih besar dibandingkan mereka yang memiliki tekanan normal.
Perlu dipahami bahwa hipertensi okular berbeda dengan kondisi gangguan saraf optik. Pada tahap ini, saraf mata masih dalam kondisi baik dan belum terjadi penurunan fungsi penglihatan.
Namun, apabila tekanan yang tinggi mulai merusak saraf optik, hal tersebut bisa menjadi indikasi awal berkembangnya gangguan yang lebih serius.
Kerusakan saraf optik sendiri umumnya terjadi akibat tekanan intraokular yang tidak terkontrol.
Oleh karena itu, menjaga tekanan bola mata tetap stabil menjadi langkah penting dalam upaya pencegahan.
Salah satu langkah utama yang dapat dilakukan adalah memahami dan menerapkan cara mencegah glaukoma sejak dini.
Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga tekanan bola mata tetap dalam batas normal sebagai bentuk perlindungan terhadap kesehatan mata.
1. Aktif berolahraga secara rutin
Dalam sejumlah kondisi, gangguan pada mata dapat dipicu oleh penyakit tertentu seperti diabetes maupun tekanan darah tinggi.
Oleh karena itu, menjaga tubuh tetap aktif melalui olahraga dapat membantu menekan risiko kedua penyakit tersebut, yang secara tidak langsung juga berdampak pada kesehatan mata.
Menurut pendapat Harry A. Quigley yang dikutip dari Glaucoma Research Foundation, jenis aktivitas fisik yang dinilai efektif untuk membantu menurunkan tekanan pada bola mata adalah olahraga aerobik.
Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa aktivitas ini dapat meningkatkan sirkulasi darah ke retina serta saraf optik.
Untuk mendapatkan manfaatnya, tidak perlu melakukan latihan yang terlalu berat.
Aktivitas sederhana seperti berjalan cepat selama kurang lebih 20 menit dan dilakukan sekitar empat kali dalam seminggu sudah cukup membantu menjaga kondisi tubuh dan mata tetap optimal.
2. Mengonsumsi teh secara rutin
Kebiasaan minum teh setiap hari juga disebut-sebut dapat memberikan efek positif terhadap kesehatan mata. Hal ini didukung oleh sebuah studi yang dipublikasikan dalam British Journal of Ophthalmology.
Penelitian tersebut melibatkan 84 orang dewasa dengan mengamati kebiasaan konsumsi minuman mereka selama satu tahun terakhir, termasuk kopi, teh panas, teh tanpa kafein, minuman ringan, serta minuman manis lainnya.
Hasilnya menunjukkan bahwa individu yang rutin mengonsumsi teh panas memiliki kemungkinan lebih rendah mengalami gangguan pada mata, dengan penurunan risiko mencapai sekitar 74 persen dibandingkan mereka yang tidak memiliki kebiasaan tersebut.
3. Melakukan pemeriksaan mata secara berkala
Tekanan bola mata yang meningkat sering kali tidak menimbulkan gejala apa pun, sehingga banyak orang merasa kondisi penglihatannya baik-baik saja tanpa menyadari adanya risiko.
Oleh karena itu, melakukan pemeriksaan mata secara rutin menjadi salah satu langkah penting untuk mendeteksi gangguan sejak dini sebelum berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.
Pemeriksaan mata sangat dianjurkan terutama ketika seseorang mulai memasuki usia 40 tahun ke atas.
Selain faktor usia, pemeriksaan juga perlu dilakukan secara berkala jika memiliki riwayat penyakit tertentu seperti diabetes dan tekanan darah tinggi.
Kedua kondisi tersebut diketahui dapat memicu peningkatan tekanan pada bola mata pada beberapa jenis gangguan, sehingga penting untuk melakukan pemantauan secara berkala demi menjaga kesehatan penglihatan.
4. Mengonsumsi makanan bergizi
Upaya menjaga kesehatan mata juga dapat dilakukan dengan memperbaiki pola makan sehari-hari.
Memilih makanan yang kaya nutrisi sangat membantu dalam mendukung fungsi penglihatan serta mengurangi risiko gangguan pada mata.
Salah satu jenis nutrisi yang penting adalah karotenoid, yang banyak ditemukan pada sayuran dan buah berwarna hijau tua maupun kuning.
Kandungan ini dipercaya mampu membantu melindungi mata dari berbagai masalah kesehatan, termasuk gangguan pada saraf optik.
Beberapa jenis makanan yang dapat dikonsumsi untuk menjaga kesehatan mata antara lain:
• brokoli
• bayam
• jagung
• kacang panjang
• ubi jalar
• mangga
• paprika kuning
Dengan mengombinasikan pola makan sehat dan pemeriksaan rutin, kesehatan mata dapat lebih terjaga dalam jangka panjang.
Apa yang perlu dilakukan jika tekanan bola mata sudah tinggi?
Ketika seseorang telah didiagnosis mengalami hipertensi okular, kondisi ini tetap bisa dikendalikan agar tidak berkembang menjadi gangguan yang lebih serius. Tekanan yang meningkat memang dapat menimbulkan keluhan seperti mata lebih peka terhadap cahaya, namun sering kali juga tidak menunjukkan tanda yang jelas. Karena itu, penanganan sejak awal sangat penting.
Salah satu langkah utama yang disarankan adalah melakukan pemeriksaan mata secara rutin. Dengan pemantauan berkala, perubahan kondisi dapat diketahui lebih cepat sehingga penanganan bisa dilakukan sejak tahap awal sebelum menimbulkan dampak lebih lanjut.
Selain itu, terdapat beberapa pendekatan yang dapat dilakukan untuk membantu menjaga tekanan bola mata tetap stabil:
1. Menggunakan obat untuk menurunkan tekanan bola mata
Penanganan yang paling umum dilakukan adalah dengan menurunkan tekanan di dalam mata. Upaya ini terbukti efektif dalam mengurangi kemungkinan kondisi berkembang lebih lanjut hingga sekitar 50 persen.
Terapi yang sering direkomendasikan biasanya berupa obat tetes mata. Fungsinya adalah mengurangi produksi cairan di dalam mata sekaligus membantu proses pengaliran cairan tersebut agar lebih lancar.
Dengan mekanisme ini, tekanan di dalam bola mata dapat berangsur menurun.
Namun, penggunaan obat tidak selalu diperlukan pada semua kasus. Keputusan pemberian terapi biasanya disesuaikan dengan tingkat tekanan yang dialami serta pertimbangan dari tenaga medis.
2. Pemanfaatan obat metformin pada kondisi tertentu
Bagi individu yang memiliki diabetes sekaligus mengalami hipertensi okular, penggunaan Metformin secara rutin diketahui memiliki potensi membantu menurunkan risiko gangguan pada saraf optik.
Penelitian yang dipublikasikan dalam JAMA Ophthalmology mengamati lebih dari 150 ribu pasien diabetes berusia di atas 40 tahun selama satu dekade.
Hasilnya menunjukkan bahwa kelompok yang mengonsumsi metformin dalam dosis tinggi memiliki kemungkinan sekitar 25 persen lebih rendah mengalami gangguan tersebut dibandingkan dengan mereka yang tidak menggunakannya.
Meski demikian, manfaat ini masih terbatas pada pasien dengan diabetes. Penggunaan metformin bagi individu tanpa diabetes belum dapat disimpulkan secara pasti.
Saat ini, penelitian lanjutan masih terus dilakukan untuk mengembangkan formulasi yang mungkin dapat dimanfaatkan lebih luas, termasuk bagi mereka yang hanya mengalami peningkatan tekanan bola mata tanpa penyakit penyerta.
Sebagai penutup, memahami cara mencegah glaukoma sejak dini membantu menjaga kesehatan mata dan menurunkan risiko gangguan penglihatan di masa depan.